If We Just As Friend
by Ni Wayan Shanti Savitri
by Ni Wayan Shanti Savitri
(pict from google)
Hari itu Aku dan teman - temanku pergi ke sebuah rumah
makan. Kita tertawa dan bergembira. Mengenang masa kanak - kanak. Disaat kita
bermain lumpur, kejar kejaran , disaat kita saling mengejek dengan wajah dibuat
aneh serta 1000 tingkah khas anak -
anak. Aku menatap wajahmu yang sekarang bertambah dewasa. Aku tetap
menganggapmu sebagai teman. Hingga sekarang gaya bicaramuu sama, gaya rambtmu
sama dan senyumanmu juga masih sama seperti dulu. Senyuman tulus yang selalu
kau tunjukkan kepada semua orang. Senyuman yang dapat membuatku ingin terus
berada di sisimu, yang dapat membuatku ingin menjaga senyuman itu tetap
terpatri di wajahmu. Mungkin ini yang dinamakkan dengan sayang atau cinta atau
mungkin bisa jadi ini rasa ingin melindungi antar teman. Eitss tunggu dulu
kenapa akhirnya rumusan tentang rasa ini berakhir di teman? Mungkin ini
disebabkan karena Aku menjaga jarak atau mungkin karena aku takut mendekatimu
terlalu jauh, takut karena hubunga diantara kita hanyalah teman, takur bersing
dengan semua cewek yang selalu mengejarmu bagaikan seorang popstar yang dIkejar
fansnya. Dan hingga saat ini Aku belum pernah mengatakan perasaan ini
kepadamu. Aku kadang memikirkan tentang
perasaannmu kepadaku. Hubungan ini, perasaan ini membuatku merasa sAkit
"jika kita hanya
sebagai teman mungkin terasa menyakitkan seperti ini, perasaan yang tidak
terungkapkan"
Aku menyumbat telingaku dengan earphone, berharap agar suara
musik rock yang terdengar dari seberang jalan tidak merusak telingaku.
''jika ada yang merasa
terluka dan bahkan mengeluarkan darah"
Aku memandang dirimu yang berlari keluar dan berbicara
dengan orang - orang yang memainkan musik rock tadi.
"firasat cinta
diantara kita takkan terkalahkan''
Kamu lalu datang sambil menunjukkan sebuah tiket menonton
konser.
"hei dianatar kalian ada yang mau nonton konser
gratis?'' tanyamu
"tentu!" teriak Leo sambil mengangkat tangannya,
yang lain cuma mengangguk.
"bagaimana denganmu An?" tanyamu, Aku terkejut
semua teman yang ada disana menatapku penasaran.
"Aku... Ikut" jawabku.
Kami pergi ke konser itu dengan menggunakan mobil milikmu.
Ketika sampai disana kami melihat begitu banyak orang yang mengantri.
"apa benar ini tempatnya? Pion'' tanya Libra
"Bener kok" jawabmu
mereka berfikir sebentar lallu menoleh ke arahku.
''bagaimana denganmu an apa kamu percaya?'' Aku berfikir
sejenak sambil melihat dirimu dan yang lain.
"ya lagi pula
ini gratiskan?" kataku
"kamu nggak baca tulisan yang ada di bagian
belakangnya?" kata Libra, Aku melihat bagian belakang tiket itu lalu menaikkan
alisku , sedikit heran.
"Aku tak mau ikut audisi lagi" kata Leo sambil
memasang wajah meyakinkan
"Pion Lo taukan Gue nggak suka menyanyi" kata
Geminu
"kita bakalan masuk buat nonton konser saja" kata
Aries.
Kamu menatapku dengan wajah memelas dan dramatis, yang
sebenarnya membuatku tertawa bukan kasihan
"ayolah An kamu mau kan ikut audusinya denganku? Ya?
Ya?''
"entahlan Pion , Aku tidak tau" kataku sambil
menatap yang lainnya, mereka memberikan kode jangan ikut dengannya itu
berbahaya.
"tolong An , syaratnya harus beregu atau duet"
katamu
"ya deh tapi Aku nggak jamin bakalan bagus hasilnya''
kataku, tentu saja Aku mengatakan hal itu karena ini audisi dadakan. Kamu terlihat sangat senang sungguh Aku
ingin melihatmu seperti ini, selalu melihatmu dengan senyuman yang lebar.
"tapi ingat ya traktiran sepulang sekolah besok''
kataku, kamu terlihat terkejut lalu memasang muka sedikit kesal
"ya" katamu, mungkin karena sedikit terpaksa
"kami juga ya!" kata Leo, dasar nih anak maunya
gratisan saja
"nggak" katamu
"yaelah traktir saja, masa An saja yang ditraktir Aku
juga sahabatmu"
Ya memang Aku adalah sahabatmu dan itulah yang selalu
terlihat, walau kadang Aku ingin orang lain melihat kita berdua lebih dari
sekadar sahabat.
"siapa suruh kalian nggak mau ikut denganku'' katamu
sambil menarik tanganku dan menarikku masuk ke dalam gedung . Jantungku terus
berpacu dengan cepat. Kalau tekananku diukur, Aku pasti sudah terkena
hipertensi. Kamu tetap memegang tanganku walau kita sudah sampai di dalam
gedung, seakan kau mengatakan jangan pergi jauh dariku, tetaplah disisiku.
Perasaan ini terus mengalir di tubuhku, ah kalau saja kita benar -benar
pasangan kekasih Aku pasti membalas genggaman tanganmu.
"Aku pasti ada di
sisimu selalu "
Tanganku ingin memegang tanganmu dengan erat namun disaat
yang bersamaan kau melepas genggaman tanganmu dan pergi menuju ke meja
pendaftaran
''meskipun Aku hannya
sebagai temanmu''
Kamu melambaikan taganmu kearahku mengisyaratkan untuk pergi
ke tempatmu kini berada.
"an tanda taga disini" katamu sambil menunjuk ke
arah sebuah kolom. Aku melihat formulir tersebut Aku cukup terkejut ketika Aku
mengetahui bahwa kamu yang mengisi form
identitasku. Ternyata kamu tau hampir semua tentangku walau untuk beraT badan
dan tinggi saja yang salah.
"An kita mau nyanyi lagu apa?'' tanyamu ketika kita
berdua duduk di ruang tunggu
"lagu rock?" jawabku
"tidak, kurasa itu tidak bagus"
"he..????!'' Aku terkejut , tentu saja biasanya dirimu
sangat suka musik rock bahkan kau selalu menyanyikan lagu bergenre rock itu
ketika pulang sekolah, yang membuat hampir seluruh murid menjauhimu saat pulang sekolah. Dan hanya
diriku yang bisa menutupi keburukanmu, hanya diriku yang tau bagaimana setiap
reaksi yang kau berikan kepada beberapa hal. Namun sepertinya sekarang kau
menunjukkan sesuatu yang lain.
"kita memilih lagu tentang cinta... Kayak lagu -lagu
duet"
"Hah?!"
"kau tau kebanyakan peserta memilih lagu itu, kurasa
kita juga harus menggunakan lagu itu" katamu
Sebenarnya dalam hati Aku sangat senang, duet dengan lagu
tentang cinta bersama dengan dirimu, namun dalam sekejab Aku menangkap rasa
kecewa di balik matamu.
"kita menggunakan lagu rock saja, jarang ada cewek
cowok yang duet lagu rock, ayolah.." katAku. Aku memang sangat senang jika
kita berdua duet lagu yang romantis, namun Aku tak sanggup melihatmu tanpa ciri
khasmu, menjadi orang lain dan
kehilangan identitasmu.
"An?'' kau menatapku seolah kau mengucapkan kata -kata
seperti benarkah? Kau ingin mendengarkanku menyanyikan lagu rock itu walau
semua orang selalu menutup telinganya? Apakah kau akan selalu membuka telingaku
untuk mendengarkan setiap kata yang akan kulontarkan?
Salah seorang juri membuka pintu dan menyuruh kami berdua
untuk masuk.
Setelah melewati masa - masa audisi akhirnya kita kalah
namun kita tersenyum sepanjang melewati koridor menuju ke parkiran. Teman -
teman yang lain sudah pulang duluan. Aku tidak tau mereka naik apa pulang karna
seingatku kita berangkat dengan mobilmu. Aku menoleh ke arahmu yang sedang
sibuk mengangkat telepon.
"ah... Masa dimarahi cuman gara-gara ikut audisi"
katamu, yah meskipun cowok namun dirimu masih sering dimarahi kalau telat
pulang.
"Pionn Aku pulang ya!'' kataku sambil melambaikan
tangan kearahmu dan berjalan ke halte bus.
"hei tunggu ! Jangan pulang sendirian! Aku akan
mengantarmu pulang" katamu sambil menarik tanganku mencegahku untuk
melangkahkan kaki. Aku berhenti melangkah, angin malam yang dingin berhembus.
Aku menatapnya lalu tersenyum menghindari penyakit yang sering melanda kaum
adam dan hawa, salah tingkah. Namun sedetik kemudian senyumanku berubah menjadi
senyuman jahil
"kau takut pulang sendiri ya?'' kataku sambil memasang
wajah seseram mungkin
"mana mungkin! Aku bukan seorang cowok yang tega
meninggallkan seorang cewek yang pulang malam sendirian!'' katamu, aku diam,
sebenarnya pulang bersamamu sudah menjadi hal yang biasa namun ucapanmu barusan
membuatku terkejut. Apa kau benar - benar ingun melindungiku? Seseorang
terlihat berlari - lari kearah kami, sepertinya dia adalah salah satu juri
audisi tadi.
"hei kalian! Tunggu!'' teriaknya, kami menoleh ke
arahnya.
??kalian lulus audisi, Aku lupa menyebutkan nama kalian, ini
formulir untuk audisi selanjutnya" katanya sambil menyerahkan dua buah
ertas. Atamu meMbulat besar, kau menerima formulir tersebut tanpa banyak
bicara. Aku lalu mengucapkan terima kasih kepada orang itu. Dan dia pun pergi.
Kau lalu memelukku karna kau sangat bahagia. Ternyata
dipeluk olehmu rasanya sangat hangat. Setelah beberapa menit kau melepas
pelukanmu.
"aku suka dipeluk
olehmu walau kita hanyalah sahabat"
Kau lalu berteriak senang dan berlari lari, Aku tertawa
melihat tingkahmu tersebut. Kau lalu mendekatiKu, wajahmu seolah mengatakan
bahwa kau sangat senang hari ini. Aku pun berjalaN di trotoar lalu kau
mengejarku.
"hei bukannya kita akan pulang bersama?'' tanyamu
"eh maaf, Aku lupa. Aku hanya tidak tega membuyarkan
lamunanmu tentang audisi itu'' kataku
"An... Sebenarnya...'' kau terlihat ragu -ragu itu
tercetak jelas di wajahmu.
"ah jangan takut besok kita pasti lolos'' kataku.
"bukan tapi....'' kau semakin ragu dan resah
"Ayolah katakan saja atau sebenarnya kau menyimpan
rahasia yang jorok, kalau tak bisa dengan kata kata mungkin Dengan erakan
tubuh'' kataku
kamu berjalan
mendekat kearahku dan mencium keningku. Oh! Yaampun! Ini...
"An... Sebenarnya... Aku... Me-" sebelum Pion
menyelesaikan kata - katanya, Aku mendorong tubuhnya agar menjauh dari sebuah
truk yang melaju kencang ke arah kita, dan akhirnya akulah yang tertabrak truk
tersebut. Aku merasakan tubuhku melayang dan membentur tanah dengan keras,
kesadaranku berlahan menghilang. Kau lalu terduduk di samping Jasadku
"...Pada akhirnya
kita berdua hanyalah sahabat...."

Komentar
Posting Komentar