Yo! Kali ini Shan
membawa review singkat mengenai anime yang berjudul Shiki Oriori
Spoiler Alert!
Judul : Shiki Oriori (Weaving
Poems of The Season)
Tahun : 2018
Genre : Slice of life
Shiko merupakan anime
yang menggunakan latar Cina dalam setiap ceritanya. Dalam film yang diproduksi
oleh CoMix Wave ini terdapat tiga cerita. Dan ini merupakan anime yang tidak
melibatkan Makoto Shinkai, yang sepeti kita ketahui kebanyakan anime besutan
CoMix Wave pasti melibatkan si Makoto ini.
Cerita pertama
berjudul “Sunny Breakfast” atau dalam bahasa Indonesianya “Sarapan nan Indah”.
Mengambil latar di Hunan, cerita pertama mengajak kita untuk menelusuri
keseharian seorang Ming.
Di cerita ini kita
bakal disuguh dengan makanan-yaitu mie beras atau dalam bahasa situ-nya nama
makanan ini “Mie San Xian”
Waktu nonton ni film,
Shan lagi dikamar di malam hari, dan tiba-tiba perut Shan berkocok ria. Jadi
Shan sarankan untuk kalian, kalo mau nonton film ini sebaiknya dalam kondisi
perut yang udah penuh.
Tentu saja sesuai
dengan judulnya, cerita ini tidak jauh-jauh membicarakan soal mie-dan topik
lainnya misal, kisah cinta anak remaja, dari awal sampai akhir cerita. Membuat
Shan harus menahan iman.
Next, kita lanjut ke
cerita berikutnya yaitu “Little Fashion Show” yang mengisahkan tentang
kehidupan dua orang kakak beradik.
Yi Lin, merupakan
seorang model yang sedang naik daun. Ia dan adiknya, Lu Lu tinggal di sebuah
apartemen di daerah Guangzhou. Lu lu memiliki keterampilan dalam menjahit
pakaian.
Ceritanya tidak
jauh-jauh antara konflik pekerjaan serta keluarga. Kalau dipikir-pikir cerita
ini lebih dekat ke chiklit. Bagi yang lagi galau masalah pekerjaan dan lainnya
mungkin film ini bisa memotivasimu.
Siapa bilang kalo jadi
model itu mudah?
Lalu Cerita terakhir
di tempati oleh “Shanghai Love” tentu saja berdasarkan judulnya tentunya cerita
kali ini berkisah tentang love story ala-ala teenlit, yah walau tidak disuguh
adegan teenlit di awal cerita.
Tokoh utama di cerita
ini bernama Li Mo, serta dua temannya Pan dan Xiao Yu. Mereka bertiga gemar
banget mutar kaset radio gitu.
Benar-benar cerita
khas teenlit menurutku, berbeda dengan dua cerita sebelumnya. Bagi yang lagi
remaja-remaja anget, yang butuh pelampiasan akan perasaaan.
Lalu scene terakhir ditutup dengan adegan mereka (Semua tokoh dari setiap cerita) di bandara-pergi kesuatu tempat
Kesimpulan
- Ceritanya sederhana, tidak se-wah pendahulunya a.k.a Kimi no Nawa, namun tetap terasa segar.
- Menurutku yang menjadi kelebihan dari film ini adalah Artnya yang banyak efek (Serius aku kelaparan pas cerita pertama, mienya semua menggoda)
Truss pendapat kalian gimana? Yuks bagikan di kolom komentar!
















Komentar
Posting Komentar