Langsung ke konten utama

Kategori Cerpen jual Beli Yang Berharga



Jual Beli yang Berharga
by ni wayan shanti savitri (shanti)
DOSMAN


Hari ini gadis itu berjalan menuju ke rumahnya, walau tidak bisa di bilang rumah. Keadaannya yang sangat reot, atapnya berlubang di sana sini, temboknya terbuat dari anyaman bambu, sebuah meja panjang yang beralaskan dengan kain polos menjadi tempat berdiri bagi seorang yang renta. Umurnya mungkin 47 tahun keatas, dia kelihatannya sangat berbeda. Tubuh penuh luka dan juga cara berperilakunya yang sedikit aneh. Pakaian yang compang camping, seperti tak terurus sedangkan seorang gadis masuk sambil membawa seember air. “ayah duduk saja jangan kemana-mana” gadis itu menuntun agar orang tuanya duduk tenang di tempat tidur. Gadis itu lalu mengelap sang Ayah, yang bertingkah aneh. “ayah tenang ya… tenang hari ini aku pasti akan membawa obat tenang aja…” gadis itu berucap sambil mengelap kaki sang ayah. Sedangkan dia berkata namun tak jelas seperti seorang yang sakit kejiwaan. “ayah tenang aja aku, aku a- aku pasti akan membeli obat tenang aja”. Gadis itu lalu pergi keluar membiarkan orang tua itu tetap duduk sambil memainkan buah pisang yang di dekatnya. Gadis tersebut tersenyum kepada orang tuanya sebelum menutup pintu. “hei lihat gadis aneh!” kata seorang anak “pergi! Jangan kesini!” lalu sahut menyahut, kalimat-kalimat yang membuat hatinya teriris. Dia melewati mereka sambil menyembunyikan air matanya. “hari ini aku harus dapat mengumpulkannya dengan banyak” katanya dalam hati, memompa semangat untuk tetap mengumpulkan kayu bakar tersebut ke pasar. “ini uangnya” setidaknya hari ini dia mendapatkan sedikit rupiah untuk menyambung hidup. Dia berjalan dengan senyuman, “hari ini bagus sekali cuacanya cerah dan tak ada banyak masalah” batinnya dia menghitung jumlah uang yang ia terima. “hanya 15.000 tidak apa apa aku pasti akan bisa membeli obat untuk ayah” katanya sambil berjalan menuju ke apotek terdekat. Dia hendak menyebrang namun sebuah mobil menyerempetnya sehingga dia jatuh. “aw!”satu kata yang keluar dari mulutnya. “maaf anda tidak terluka?” Tanya orang tersebut sambil menolong Gadis itu. “maafkan saya” orang tersebut lalu membungkuk “ah tidak apa-apa” “anda mau kemana? Saya akan mengantar anda sebagai permintaan maaf saya” orang tersebut sangat sopan, diantara semua orang yang pernah dia temui. “saya hanya mau membeli obat ke apotek” “bagaimana kalau saya yang bayar” “ta-tapi pak” “maaf tapi ini adalah permohonan maaf saya” Gadis itu tak mampu untuk menolak ajakan orang tersebut. Dia hanya mengangguk saja, pada akhirnya orang tersebut membayar obat-obatan yang dia beli. “terima kasih” katanya “sama-sama” orang tersebut lalu masuk ke dalam mobil kembali. “kenapa?” Tanya pemuda yang duduk di belakang kursi pengemudi tersebut “ah tuan sudah bangun” pemuda tersebut melihat ke tasnya yang sudah basah dengan airliur “ah kelihatannya aku tertidur tadi” dia melirik kearah belakang tepat kearah gadis tersebut. “kau tadi hampir menabraknya dan membuatku terbangun” dia mulai mengucek matanya kembali, “ayo cepet pulang”, supir tersebut mengangguk sambil menancapkan gas.
***
“ayah aku bawakan ayah obat” Gadis tersebut lalu meletakkan obat tersebut di atas meja. Dia memijat kaki ayahnya yang tidak mau diam. “aku sudah belikan obat demam” dia lalu mengambil segelas air dan membuka pil tersebut. Orang tua tersebut terus mengalami kejang-kejang. Sedangkan anak perempuannya setia merawatnya. Setelah orang tua tersebut tenang dan damai di alam mimpinya, gadis itu berjalan ke luar sambil membawa ember.
***
Semua orang memiliki nama, dia berjalan menuruni tangga setapak. Apakah aku benar-benar tidak memiliki nama? Batinnya. Dia lalu berhenti melangkah tepat di depan sebuah mata air. Aku harus dapat membuat ayahku bahagia. Dia lalu meninggalkan ember tersebut dan mulai menggunakan pisau yang ia bawa untuk memotong daun pisang. Melangkah kea rah areal sawah yang kebetulan sangat dekat. Mencabuti beberapa tanaman berjenis paku-pakuan adalah pekerjaan tambahannya, setelah itu dia lalu mengumpullkan kakul (istilah untung keong sungai). Setelah pekerjaannya selesai, dia lalu menaiki anak tangga lagi menuju ke atas. Menuju ke salah satu rumah warga, sebelumnya dia menyimpan seikat paku untuk dimasak di rumah. Dia mengetok pintu rumah Pak RT, salah satu orang yang baik yang pernah ia kenal, orang yang mengijinkan dirinya dan ayahnya menempati salah satu gubuk milikinya. “permisi” Gadis tersebut mengetuk ngetuk pintu rumah tersebut. Seorang laki-laki berumur 40 keatas membukakan pintu. “selamat sore, oh terima kasih” dia lalu menerima sayuran dan juga kakul tersebut. Sebagai bayaran dia tinggal di gubuk tersebut (sebenarnya bukan disuruh sama pak RT tapi kan ya tidak enak kalau menumpang) “maaf sudah merepotkan” kata Pak RT “Tidak pak saya yang harusnya berterima kasih anda telah mengijinkan saya dan ayah saya tinggal disana” setelah selesai dia lalu kembali ke gubuknya (yang ia sebut rumah). Dia berjalan melewati beberapa toko. Terkadang dia berhenti untuk memandangi beberapa benda yang sedang di pajang di depan toko. Dia kadang memandanginya sampai berjam-jam, setelah dia terbangun dari dunia khayalnya dia langsung sedih, apalagi setelah memperhatikan angka-angka yang tertera di sana. Menurutnya angka nolnya terlalu banyak sehingga dia belum sempat menghitung. Gadis tersebut berjalan melewati toko-toko tersebut, dia terus berjalan, di depan jalan terdapat beberapa ibu-ibu dan juga pedagang sayur gerobak. “hei lihat pelacur tersebut kayaknya belum kapok juga ya” “iya benar ngerayu pak RT lagi Mariem kamu tidak cemburu?” samar samar dia dapat mendengar suara-suara ejekan yang ditujukan kepada dirinya, “tidak mbak dia itu anak baik-baik” Bu Mariem alias Bu RT tidak menghiraukan percakapan tadi. Salah satu orang yang baik hati di kampung ini, itulah pendapatnya menurut wanita tersebut. Gadis tersebut menghela nafas dan berjalan melewati mereka.
***
Gadis tersebut mengintip melalui jendela, kemewahan yang menurutnya masih dapat dia rasakan di tengah kerasnya dunia. Pendidikan, ya pendidikan salah satu hal yang menurutnya mewah. Dia melihat deretan kalimat yang ditulis di papan tersebut. Dia sangat beruntung hari ini. Tak ada satpam yang berjaga, pernah sekali dia ketahuan mengintip melalui jendela dan pas saat itu sedang terjadi pencurian, otomatis dia menjadi kambing hitam. Padahal yang dia lakukan hanya berdiri dan juga menatap ke beberapa rumus matematika yang sedikit demi sedikit masuk ke dalam otaknya walau tak sepenuhnya. Dia mencoreti tanah dengan ranting pohon , dia mulai menulis jawaban dari soal yang tadi di tanyakan oleh guru berkumis tersebut. Dia belum membeli buku, dan itu memang  -tidak pernah-  buku merupakan salah satu barang mewah baginnya. Jadinya dia hanya mencoreti tanah, sebelum dia menulis di tanah dia sering mengisikan kolom nama dan juga kelas. Dia meniru hal yang biasanya di lakukan oleh siswa yang sedang ulangan. Gadis tersebut menggaruk-garuk kepalanya, dia telah selesai menulis rumus dan juga kelasnya, hanya sederhana. Kelas XI tidak ada embel-embel IPA atau IPS. Gadis tersebut menatap ke langit, dia tidak ingat dengan namanya. Entah apa yang terjadi kepada otaknya kenapa dia sampai lupa dengan namanya sendiri. Dia mendengar suara deru bis mini yang mendekat menuju ke sekolah tersebut, dia terkejut lalu mulai bersembunyi di toilet, tempat yang sepi dan juga tidak mungkin digeledah begitu aja. (nanti dikira ngintip), melalui lubang angin, gadis tersebut melihat ke luar, beberapa siswa dengan seragam yang lain dengan seragam sekolah ini masuk ke gerbang sekolah. “hei kau tau dengan kabar itu?” dia menajamkan telinganya mendengarkan siswi yang sedang ngobrol di dekat toilet, “ah ya mereka kan siswa pertukaran, eh lihat dia ganteng!!!” “yang mana? Yang mana?” “itu-itu!!” kedua siswi tersebut lalu pergi entah kemana. Gadis tersebut lalu keluar dari toilet setelah merasa semuanya aman. “ah… tadi hampir saja” gumamnya lalu kembali mengintip melalui jendela.
***
Pemuda tersebut lalu duduk usai memperkenalkan diri, bersama dengan temannya “wah ternyata sekolah ini nyaman juga ya!” kata Temannya, dia lalu memperhatikan papan dan juga mengeluarkan beberapa buku dari tasnya. Dia mulai mengerjakan soal yang dikerjakan di papan. “hai Lio namaku Tiara dan dia Tasya” kata gadis yang ada di depannya memperkenalkan diri. “salam kenal” kata Lio dan juga temannya Tedy. Mereka lalu memperhatikan penjelasan guru tersebut. “baiklah tolong kerjakan soal ini” Gadis tersebut lalu kembali menggores tanah dengan ranting. Sebuah kapur lalu menggelinding ke arahnya, Gadis tersebut lalu mengambilnya dan mencoreti salah satu meja yang rusak dengan jawaban dari pertanyaan di papan. “ayo kenapa lama sekali?” kata Guru tersebut. Mereka saling toleh lalu kembali menggoreskan penanya, Lio menyandarkan tubuhnya di kursi usai menjawab soal. Walaupun udah selesai namun dia masih ragu untuk mengangkat tangan, dia tidak mau dikatakan sebagai anak sok tau. Murid pertukaran pelajar, matanya lalu melayang kearah luar jendela. Menangkap bayangan anak perempuan yang sedang mencoreti meja yang tak terpakai, sesekali menengok melalui jendela lalu menulis lagi. Karna penasaran dia lalu memanggil Tiara yang duduk di depannya, “hm… Tiara gadis itu memang sering ada disini ya?” “yang mana?” Tanya Tiara sambil menengok ke belakang “yang itu” kata Lio sambil menunjuk kearah gadis yang sedang berdiri memandangi meja yang penuh dengan tulisan “eh si Kutu itu kembali!” seru Tiara, kontan saja semua siswa menoleh ke luar. Lalu beberapa diantara mereka meneriaki gadis tersebut dan memanggil manggil satpam, Lio lalu berlari keluar kelas mengikuti beberapa siswa yang keluar lebih dahulu. Gadis itu terlihat ketakutan. Lio sedikit iba dengannya “ngapain kamu disini?! Dasar pencuri!” kata salah satu siswi disana sambil menarik lengan gadis tersebut denga kasar. “hei hentikan emangnya apa yang dia perbuat sampai kalian marah seperti ini?” kata Lio  sambil berdiri di depan gadis tersebut. “lio! Lio! Apa yang kamu lakukan?” bisik Tedy kea rah Lio, namun tampaknya tak didengar olehnya. “tau nggak dia itu pencuri tau!” kata siswi berambut pendek “saya tidak pernah mencuri” “hu!!!! Dasar jelek cepat pergi!” kata siswa yang lain. “kamu dekil! Sana cepat pergi!” “apa apaan sih kalian?!” Lio menoleh ke gadis yang sedang ketakutan tersebut. “tolong tenang! Tenang semuanya!” kata guru berkumis tebal tersebut. “ya saya mengerti anda bukanlah orang yang mencuri laptop dari siswa di sekolah ini namun sepertinya anda membuat siswa yang belajar disini tidak nyaman” kata guru tersebut dengan sopan Lio lalu manatap kea rah meja using yang menjadi tempat gadis tersebut mencorat coret. Matanya hampir tidak bisa berkedip, “itu….benar…” katanya “apa yang kau bilang?” “dia benar!” seru Lio sambil mendekati meja rusak tersebut, “siapa namamu?” Tanya Lio dengan  antusias “namaku?” gadis itu lalu diam sebentar. Apa yang nama yang bagus ya? Lyla mungkin. “ah namaku Lyla” kata gadis -Lyla- “lyla kau hebat! Bagaimana kau bisa- ah kau murid darimana? Kau sangat pintar! Ah bukan, kau cerdas banget!” semua yang ada di sana cuman diam, bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Lio. Guru tersebut lalu mendekati Lio dan berbincang bincang sebentar sesekali melihat kea rah Lyla yang bingung. “maaf atas kekeliruan kami, kami akan memberimu beasiswa untuk sekolah disini.” “be-beasiswa?!” kata siswa yang lain “ya ternyata diluar dugaan kami ternyata dia adalah remaja yang benar-benar cerdas”  “wah selamat ya!” kata Lio sambil menepuk bahu Lyla yang wajahnya memerah “ah sepertinya aku pernah melihatmu di suatu tempat, ah ya kau gadis yang ditabrak oleh supirku beberapa hari yang lalu maaf ya”. Mereka lalu mulai belajar seperti biasa lagi dengan murid tambahan Lyla yang kini sudah memakai seragam sekolah.
***
“rambutmu seharusnya di rapiin dikit” kata Lio sambil melihat ke arah Lyla “iya benar” kata Tiara mereka sedang berjalan menuju ke rumah masing masing, “nih aku bawa karet” tiara memberikan karet kepada Lyla gadis itu menerimanya “terima kasih” “yaudah aku duluan ya bye!” Tiara lalu masuk ke dalam sebuah rumahnya. Mereka berdua larut dalam diam, “hei pakai karetmu jangan hanya di mainkan” kata Lio, memecahkan keheningan, “ah aku tidak bisa, kamu bisa ajarin aku?” “hadeehh kamu kan perempuan” Lio lalu mengambil karet tersebut “emangnya kamu tidak pernah mengikat rambutmu?” “aku hanya memotongnya pendek, agar lebih mudah” “oh…” Lio lalu melihat rambut Lyla yang memang pendek, mungkin satu satunya bagian rambut yang panjang hanya ada di depannya, tepatnya di depan mukanya. “ah kurasa kau perlu jepit rambut bukan karet” kata Lio “kau punya?” Lyla menggeleng. “aku akan belikan tunggu disini” kata Lio sambil masuk ke dalam sebuah toko aksesoris yang dekat dengan mereka. Lyla menunggu diluar. Lio lalu keluar dan menjepit rambut Lyla, memperhatikan wajahnya sesaat. “eh kenapa kau menatapku seperti begitu?” Tanya Lyla yang canggung di perhatikan seperti itu. Lio menggeleng “kamu cantik” pipi Lyla memerah “ah um te-terima kasih!” “salah tingkah ceritanya?” “a-anu kamu tidak dijemput? Katanya kamu punya supir” Lio diam sebentar “dia lagi sakit aku jadinya harus pulang sendiri, naik bus” dia meregangkan tangannya sebentar “aku rasa naik angkutan umum sangat panas dan sesak. Dia menoleh sebentar “aku sebenernya lebih suka naik mobil pribadi namun mobilnya lagi dibawa sama Ibu. “oh…”, “oh ya rumahmu dimana?” “tak jauh dari sini mungkin dengan jalan kaki aja udah sampai” “oh… truss orang tua-mu kerja dimana?” “... ayahku sakit ibuku aku tak tau” mereka lalu larut dalam diam “oh ya alamat rumahmu dimana? Katanya tak jauh dari sini” “di Desa Daun” “eh bukannya itu jauh?! Butuh waktu berjam-jam buat sampai disana dengan berjalan kaki, mungkin setengah hari! Kamu tidak naik kereta, bus, angkutan umum?” “oh tidak aku hanya berjalan” “kau bilang ‘hanya’ itu jauh we, bagaimana kalau kau naik bus denganku? Kebetulan searah, nanti aku deh yang bayarin ongkosnya” tangannya ditarik ketika sebuah bus berhenti tak jauh dari mereka. Di dalam perjalanan mereka diam. Apa yang sama dengan mukanya ya? Kenapa aku merasa pernah melihatnya jauh daripada hari itu, wajah yang sudah biasa aku lihat setiap hari entah siapa aku tidak tau, mirip dengan siapa aku lupa. Batin Lio sambil melihat Lyla yang tertidur di Bus. Aku yakin dia telah melewati banyak hal sebelum ini, batinnya. Mungkin sebaiknya aku juga beristirahat, Lio melihat ke luar Bus kayaknya kebiasaanku buat tidur di kendaraan mulai bekerja. Baru saja Lio ingin menutup matanya  dan tidur sebentar. Terdengar suara bel kendaraan menyahut-nyahut, suara gesekan ban dengan jalan. Bunyi benda berbenturan, sontak saja dia langsung terbangun, kejadian itu terlalu cepat, dia tak tau Lyla sudah bangun atau tidak namun setidaknya dia harus melindungi gadis itu sebelum benda yang terbuat dari besi tersebut melukai dirinya.
***
Lyla mulai membuka matanya, bau obat-obatan menusuk hidungnya. Dia melihat sekeliling, “mungkin aku ada di rumah sakit” katanya sambil turun dari kasur. Dia melihat ke perban tipis yang membalut tangannya. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke luar ruangan. Sekilas dia melihat beberapa perawat mendorong seorang pemuda yang penuh darah tersebut dengan tergesah gesah. Matanya lalu membesar, pemuda tersebut “Lio…” dia lalu berlari keluar ruangan, mengikuti mereka. “maaf anda tidak boleh masuk” “ta-tapi dia teman saya dok” “baiklah anda tunggu saja disini” pikirannya tidak tenang, dia berjalan bulak-balik baru kali ini dia merasakan kegelisahan yang teramat sangat. “maaf sepertinya teman anda kekurangan darah” “A-APA?!” “stok darah kami sudah habis, jika begini nyawanya tidak akan tertolong” “sa-saya akan mendonorkan darah saya dok” “tapi tipe darahnya-” “saya mohon dok” Dokter itu mengangguk. Lyla mendonorkan darahnya, setelah menerima kabar bahwa Lio sudah membaik dia lalu pergi meninggalkan rumah sakit.  Ini pasti gara-gara aku, dia pasti menolongku sewaktu kejadian itu batinnya. Dia menatap ke langit lalu memandang seragam abu-abunya. Setidaknya aku mempunyai sesuatu yang akan membanggakan ayahku. Dia lalu berlari dengan semangat menuju rumahnya, namun hal yang mengejutkan malah datang menimpanya, “AYAH!!!”. Seusai pemakaman ayahnya Lyla langsung berlari pergi entah itu kemana, Pak RT dan Buk RT hanya bisa melihat gadis itu berlari menerobos hujan. Tak mampu berbuat apa-apa.
***
“ah ibu tak usah khawatir” kata Lio sambil tertawa, “ibu tidak mau lagi kehilangan anggota keluarga ibu, ibu sayang kamu Lio” ibunya memeluknya “haduhh bu jangan gitu donk malu ah” kata Lio. “oh ya dok siapa tadi yang mendonorkan darahnya untukku? Ibuku?” Tanya Lio ketika Ibunya sedang mengurus administrasi rumah sakit. “seorang gadis, dia bilang tadi dia adalah teman anda” Lio diam pasti yang dimaksud dokter tadi adalah Lyla “sekarang dia dimana dok?” “dia telah pergi dari rumah sakit, dia menitipkan ini kepada saya” Dokter tersebut memberikan secarik kertas kepada Lio.setelah membacanya Lio mendesah pelan lalu melihat ke cermin yang tak jauh dari situ. Melihat pantulan dirinya yang sekarang memakai pakaian pasien rumah sakit, beberapa detik kemudian matanya mulai membesar. “tu-tunggu dulu!” katanya. Setahuku kata ibu golongan darahku langka dan dan… a-aku harus menemui Lyla apa pun yang terjadi batinnya sambil pergi dari rumah sakit, “ibu aku pergi dulu!!” kata Lio “tu-tunggu Lio berhenti!” kata Ibunya. Mobil mereka berhenti di rumah Pak RT, namun kata anaknya Pak RT sedang pergi ke pemakaman ayahnya Lyla. “maaf pak kami mengganggu seben-” kata kata Ibunya Lio berhenti setelah melihat foto yang tersandar di batu nisan tersebut. Seketika dia menangis “mbak kenapa menangis?” Tanya Buk RT “su-suami saya dia apakah….”.
“kenapa! Kenapa ini terjadi kepadaku!!!” teriak Lyla di tengah taman, hujan yang mengguyur dia biarkan saja membasahi tubuhnya. “aku aku tidak peduli lagi” Lyla duduk dan memeggangi lututnya. Dia merasakan air hujan tidak lagi membasahinya, “Lyla apa yang kau lakukan?” Tanya Lio dia lalu jongkok untuk menyamakan tingginya, “tidak, tidak ada sekarang pulanglah kau butuh istirahat yang banyak”. “hei bolehkah aku membeli sesuatu darimu?” “apa?” “kesedihanmu” “buat apa?” “hei kau tak mau menjual kesedihanmu? Aku tukarkan deh dengan kebahagiaan mau tidak?” “tidak, aku bukanlah orang yang sudak menjual perasaannya termasuk kesedihannya, sekarang kau lebih baik pulang” “kalau kamu tidak mau menjualnya bagaimana kalau aku menjual kebahagiaaankun untukmu? Kau tak suka transaksi jual beli ya?” “kenapa kau masih disini? Pergilah!” “hadeeh… aku tak mungkin meninggalkan kamu disini, hujan hujanan lagi” “kenapa?” “aku tidak mungkin meninggalkan saudara kembarku disini karna aku udah berjanji akan menjaganya ketika kami masih kecil, yah tepatnya sebelum kecelakaan itu datang” Lyla diam “hei kok diam” “aku saudara kembarmu?” “kau tak percaya nih sekarang perhatiin wajah kita” kata Lio sambil mengeluarkan kaca kecil dari sakunya. Ketika melihat pantulan wajahnya seketika dia memeluk Lio dan menangis. “hei sudahlah jangan menangis” kata Lio “aku dan Ibu janji akan menjagamu jadi tenang saja, oh ya aku juga bisa mengajarkanmu ilmu ekonomi kalau kau mau, aku jago banget dalam urusan jual beli” Lyla langsung mendorong tubuh Lio “dasar modus!” keduanya lalu tertawa dibawah hujan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

lirik lagu Blessing + terjemahan

pada awalnya aku sedikit bingung karna ada 13 bahasa maaf kalau ada yang salah. ini pakek google transelet nah langsung to the point, ini dia  lirik Blessing ~World Edition~ Lyrics: Blessings for your birthday Blessings for your everyday Saigo no ichi-byō made mae o muke Muitos rótulos vai receber e mesmo se tentar mudar O valor que vão dar a você ocupará esse lugar "Nascondi tutto ciò che sai in te, anche quello che non pensi mai" Quelle parole un tempo feci mie, e cercai di non lasciarle più Oh… It’s time to get up deungbul-eul kkeobeoligi jeon-e neo Oh… It’s time to get up balmit-eul han beon bichwobwa Kung susubukan mo lang na pagmasdang mabuti Saikō no mikata ga utsutterudesho? Det är det som visar att livet finns där Blessings for your birthday Blessings for your everyday Aunque el mundo se pueda acabar, disfrútalo Blessings for your birthday Blessings for your everyday Zhídào zuìhòu de yī miǎo wǒ yě huì táitóu xiàn...

Tentang Novel : Garis Waku by Fiersa Besari

  Judul : Garis Waktu Penulis : Fiersa Besari Penerbit : Media Kita Tahun terbit : 2016 Blurb : Pada sebuah garis waktu yng merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang uang mengubah hidupmu untuk selamanya. Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan. Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada tiitik - titik kenangan tertentu. Maka, iklaskan saja kalau begitu. Karena sesungguhny, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan. POV : Sudut pandang orang pertama Alur : Alur cerita maju Tema: sesuai dengan apa yang ada pada blurb, kita pasti bisa menebak bahwa cerita ini tentang cinta atau romansa, yang mungkin tidak bisa dibilang begitu manis. Konflik : Konfliknya tidak banyak melebar, fokus pada satu konflik yaitu hubungan antara 'aku' dan 'kamu' Keterangan dari penulis (yang berusaha u...

Sasame yuki terjemahan

 Terjemahan lagu Sasame Yuki Cahaya hujan salju ... Jika tidak ada yang akan bekerja untuk saya Lalu aku akan memegang tangan Anda erat Tidak ada yang bisa dilakukan jika saya menangis Mungkin Anda akan mengatakan sesuatu tentang hal itu Aku pura-pura menjadi sangat patuh Berbalik ke arah sudut jalan Jika air mataku terlihat, maka saya akan kehilangan Merenungkan diam-diam sendiri Anda pasti Akan mengejar saya Akan menelepon saya nama saya juga Tanpa melihat ke belakang, saya tunggu Tapi Anda membiarkan saya meninggalkan Cahaya hujan salju Robekan kesedihan menjadi potongan-potongan Angin bertiup utara Biarkan anak-anak menjadi lebih kuat dengan kesederhanaan Biarkan semuanya mencair di sini dengan Menyesali Karena kenangan selalu Jadi, begitu indah Sampai wajah dan rambut saya basah Dan aku lupa tentang menjadi dingin Salju Light Menyesali Sepertinya itu akan berhenti, tetapi tidak berhenti Seperti hujan yang hanya hujan setengah Cinta yang buruk yang membuat orang menyerah S...