Jual Beli yang Berharga
by ni wayan shanti savitri (shanti)
DOSMAN
Hari
ini gadis itu berjalan menuju ke rumahnya, walau tidak bisa di bilang rumah.
Keadaannya yang sangat reot, atapnya berlubang di sana sini, temboknya terbuat
dari anyaman bambu, sebuah meja panjang yang beralaskan dengan kain polos
menjadi tempat berdiri bagi seorang yang renta. Umurnya mungkin 47 tahun
keatas, dia kelihatannya sangat berbeda. Tubuh penuh luka dan juga cara
berperilakunya yang sedikit aneh. Pakaian yang compang camping, seperti tak
terurus sedangkan seorang gadis masuk sambil membawa seember air. “ayah duduk
saja jangan kemana-mana” gadis itu menuntun agar orang tuanya duduk tenang di
tempat tidur. Gadis itu lalu mengelap sang Ayah, yang bertingkah aneh. “ayah
tenang ya… tenang hari ini aku pasti akan membawa obat tenang aja…” gadis itu
berucap sambil mengelap kaki sang ayah. Sedangkan dia berkata namun tak jelas
seperti seorang yang sakit kejiwaan. “ayah tenang aja aku, aku a- aku pasti
akan membeli obat tenang aja”. Gadis itu lalu pergi keluar membiarkan orang tua
itu tetap duduk sambil memainkan buah pisang yang di dekatnya. Gadis tersebut
tersenyum kepada orang tuanya sebelum menutup pintu. “hei lihat gadis aneh!”
kata seorang anak “pergi! Jangan kesini!” lalu sahut menyahut, kalimat-kalimat
yang membuat hatinya teriris. Dia melewati mereka sambil menyembunyikan air
matanya. “hari ini aku harus dapat mengumpulkannya dengan banyak” katanya dalam
hati, memompa semangat untuk tetap mengumpulkan kayu bakar tersebut ke pasar.
“ini uangnya” setidaknya hari ini dia mendapatkan sedikit rupiah untuk
menyambung hidup. Dia berjalan dengan senyuman, “hari ini bagus sekali cuacanya
cerah dan tak ada banyak masalah” batinnya dia menghitung jumlah uang yang ia
terima. “hanya 15.000 tidak apa apa aku pasti akan bisa membeli obat untuk
ayah” katanya sambil berjalan menuju ke apotek terdekat. Dia hendak menyebrang
namun sebuah mobil menyerempetnya sehingga dia jatuh. “aw!”satu kata yang
keluar dari mulutnya. “maaf anda tidak terluka?” Tanya orang tersebut sambil
menolong Gadis itu. “maafkan saya” orang tersebut lalu membungkuk “ah tidak
apa-apa” “anda mau kemana? Saya akan mengantar anda sebagai permintaan maaf
saya” orang tersebut sangat sopan, diantara semua orang yang pernah dia temui.
“saya hanya mau membeli obat ke apotek” “bagaimana kalau saya yang bayar”
“ta-tapi pak” “maaf tapi ini adalah permohonan maaf saya” Gadis itu tak mampu
untuk menolak ajakan orang tersebut. Dia hanya mengangguk saja, pada akhirnya
orang tersebut membayar obat-obatan yang dia beli. “terima kasih” katanya “sama-sama”
orang tersebut lalu masuk ke dalam mobil kembali. “kenapa?” Tanya pemuda yang
duduk di belakang kursi pengemudi tersebut “ah tuan sudah bangun” pemuda
tersebut melihat ke tasnya yang sudah basah dengan airliur “ah kelihatannya aku
tertidur tadi” dia melirik kearah belakang tepat kearah gadis tersebut. “kau
tadi hampir menabraknya dan membuatku terbangun” dia mulai mengucek matanya
kembali, “ayo cepet pulang”, supir tersebut mengangguk sambil menancapkan gas.
***
“ayah
aku bawakan ayah obat” Gadis tersebut lalu meletakkan obat tersebut di atas
meja. Dia memijat kaki ayahnya yang tidak mau diam. “aku sudah belikan obat
demam” dia lalu mengambil segelas air dan membuka pil tersebut. Orang tua
tersebut terus mengalami kejang-kejang. Sedangkan anak perempuannya setia
merawatnya. Setelah orang tua tersebut tenang dan damai di alam mimpinya, gadis
itu berjalan ke luar sambil membawa ember.
***
Semua
orang memiliki nama, dia berjalan menuruni tangga setapak. Apakah aku
benar-benar tidak memiliki nama? Batinnya. Dia lalu berhenti melangkah tepat di
depan sebuah mata air. Aku harus dapat membuat ayahku bahagia. Dia lalu
meninggalkan ember tersebut dan mulai menggunakan pisau yang ia bawa untuk
memotong daun pisang. Melangkah kea rah areal sawah yang kebetulan sangat
dekat. Mencabuti beberapa tanaman berjenis paku-pakuan adalah pekerjaan
tambahannya, setelah itu dia lalu mengumpullkan kakul (istilah untung keong
sungai). Setelah pekerjaannya selesai, dia lalu menaiki anak tangga lagi menuju
ke atas. Menuju ke salah satu rumah warga, sebelumnya dia menyimpan seikat paku
untuk dimasak di rumah. Dia mengetok pintu rumah Pak RT, salah satu orang yang
baik yang pernah ia kenal, orang yang mengijinkan dirinya dan ayahnya menempati
salah satu gubuk milikinya. “permisi” Gadis tersebut mengetuk ngetuk pintu
rumah tersebut. Seorang laki-laki berumur 40 keatas membukakan pintu. “selamat
sore, oh terima kasih” dia lalu menerima sayuran dan juga kakul tersebut.
Sebagai bayaran dia tinggal di gubuk tersebut (sebenarnya bukan disuruh sama
pak RT tapi kan ya tidak enak kalau menumpang) “maaf sudah merepotkan” kata Pak
RT “Tidak pak saya yang harusnya berterima kasih anda telah mengijinkan saya
dan ayah saya tinggal disana” setelah selesai dia lalu kembali ke gubuknya
(yang ia sebut rumah). Dia berjalan melewati beberapa toko. Terkadang dia berhenti
untuk memandangi beberapa benda yang sedang di pajang di depan toko. Dia kadang
memandanginya sampai berjam-jam, setelah dia terbangun dari dunia khayalnya dia
langsung sedih, apalagi setelah memperhatikan angka-angka yang tertera di sana.
Menurutnya angka nolnya terlalu banyak sehingga dia belum sempat menghitung.
Gadis tersebut berjalan melewati toko-toko tersebut, dia terus berjalan, di
depan jalan terdapat beberapa ibu-ibu dan juga pedagang sayur gerobak. “hei
lihat pelacur tersebut kayaknya belum kapok juga ya” “iya benar ngerayu pak RT
lagi Mariem kamu tidak cemburu?” samar samar dia dapat mendengar suara-suara
ejekan yang ditujukan kepada dirinya, “tidak mbak dia itu anak baik-baik” Bu
Mariem alias Bu RT tidak menghiraukan percakapan tadi. Salah satu orang yang
baik hati di kampung ini, itulah pendapatnya menurut wanita tersebut. Gadis
tersebut menghela nafas dan berjalan melewati mereka.
***
Gadis
tersebut mengintip melalui jendela, kemewahan yang menurutnya masih dapat dia
rasakan di tengah kerasnya dunia. Pendidikan, ya pendidikan salah satu hal yang
menurutnya mewah. Dia melihat deretan kalimat yang ditulis di papan tersebut.
Dia sangat beruntung hari ini. Tak ada satpam yang berjaga, pernah sekali dia
ketahuan mengintip melalui jendela dan pas saat itu sedang terjadi pencurian,
otomatis dia menjadi kambing hitam. Padahal yang dia lakukan hanya berdiri dan
juga menatap ke beberapa rumus matematika yang sedikit demi sedikit masuk ke
dalam otaknya walau tak sepenuhnya. Dia mencoreti tanah dengan ranting pohon ,
dia mulai menulis jawaban dari soal yang tadi di tanyakan oleh guru berkumis
tersebut. Dia belum membeli buku, dan itu memang -tidak pernah- buku merupakan salah satu barang mewah
baginnya. Jadinya dia hanya mencoreti tanah, sebelum dia menulis di tanah dia
sering mengisikan kolom nama dan juga kelas. Dia meniru hal yang biasanya di lakukan
oleh siswa yang sedang ulangan. Gadis tersebut menggaruk-garuk kepalanya, dia
telah selesai menulis rumus dan juga kelasnya, hanya sederhana. Kelas XI tidak
ada embel-embel IPA atau IPS. Gadis tersebut menatap ke langit, dia tidak ingat
dengan namanya. Entah apa yang terjadi kepada otaknya kenapa dia sampai lupa
dengan namanya sendiri. Dia mendengar suara deru bis mini yang mendekat menuju
ke sekolah tersebut, dia terkejut lalu mulai bersembunyi di toilet, tempat yang
sepi dan juga tidak mungkin digeledah begitu aja. (nanti dikira ngintip),
melalui lubang angin, gadis tersebut melihat ke luar, beberapa siswa dengan
seragam yang lain dengan seragam sekolah ini masuk ke gerbang sekolah. “hei kau
tau dengan kabar itu?” dia menajamkan telinganya mendengarkan siswi yang sedang
ngobrol di dekat toilet, “ah ya mereka kan siswa pertukaran, eh lihat dia
ganteng!!!” “yang mana? Yang mana?” “itu-itu!!” kedua siswi tersebut lalu pergi
entah kemana. Gadis tersebut lalu keluar dari toilet setelah merasa semuanya
aman. “ah… tadi hampir saja” gumamnya lalu kembali mengintip melalui jendela.
***
Pemuda
tersebut lalu duduk usai memperkenalkan diri, bersama dengan temannya “wah
ternyata sekolah ini nyaman juga ya!” kata Temannya, dia lalu memperhatikan
papan dan juga mengeluarkan beberapa buku dari tasnya. Dia mulai mengerjakan
soal yang dikerjakan di papan. “hai Lio namaku Tiara dan dia Tasya” kata gadis
yang ada di depannya memperkenalkan diri. “salam kenal” kata Lio dan juga
temannya Tedy. Mereka lalu memperhatikan penjelasan guru tersebut. “baiklah
tolong kerjakan soal ini” Gadis tersebut lalu kembali menggores tanah dengan
ranting. Sebuah kapur lalu menggelinding ke arahnya, Gadis tersebut lalu
mengambilnya dan mencoreti salah satu meja yang rusak dengan jawaban dari
pertanyaan di papan. “ayo kenapa lama sekali?” kata Guru tersebut. Mereka
saling toleh lalu kembali menggoreskan penanya, Lio menyandarkan tubuhnya di
kursi usai menjawab soal. Walaupun udah selesai namun dia masih ragu untuk
mengangkat tangan, dia tidak mau dikatakan sebagai anak sok tau. Murid
pertukaran pelajar, matanya lalu melayang kearah luar jendela. Menangkap
bayangan anak perempuan yang sedang mencoreti meja yang tak terpakai, sesekali
menengok melalui jendela lalu menulis lagi. Karna penasaran dia lalu memanggil
Tiara yang duduk di depannya, “hm… Tiara gadis itu memang sering ada disini
ya?” “yang mana?” Tanya Tiara sambil menengok ke belakang “yang itu” kata Lio
sambil menunjuk kearah gadis yang sedang berdiri memandangi meja yang penuh
dengan tulisan “eh si Kutu itu kembali!” seru Tiara, kontan saja semua siswa
menoleh ke luar. Lalu beberapa diantara mereka meneriaki gadis tersebut dan
memanggil manggil satpam, Lio lalu berlari keluar kelas mengikuti beberapa
siswa yang keluar lebih dahulu. Gadis itu terlihat ketakutan. Lio sedikit iba
dengannya “ngapain kamu disini?! Dasar pencuri!” kata salah satu siswi disana
sambil menarik lengan gadis tersebut denga kasar. “hei hentikan emangnya apa
yang dia perbuat sampai kalian marah seperti ini?” kata Lio sambil berdiri di depan gadis tersebut. “lio!
Lio! Apa yang kamu lakukan?” bisik Tedy kea rah Lio, namun tampaknya tak
didengar olehnya. “tau nggak dia itu pencuri tau!” kata siswi berambut pendek
“saya tidak pernah mencuri” “hu!!!! Dasar jelek cepat pergi!” kata siswa yang
lain. “kamu dekil! Sana cepat pergi!” “apa apaan sih kalian?!” Lio menoleh ke
gadis yang sedang ketakutan tersebut. “tolong tenang! Tenang semuanya!” kata
guru berkumis tebal tersebut. “ya saya mengerti anda bukanlah orang yang
mencuri laptop dari siswa di sekolah ini namun sepertinya anda membuat siswa
yang belajar disini tidak nyaman” kata guru tersebut dengan sopan Lio lalu
manatap kea rah meja using yang menjadi tempat gadis tersebut mencorat coret.
Matanya hampir tidak bisa berkedip, “itu….benar…” katanya “apa yang kau
bilang?” “dia benar!” seru Lio sambil mendekati meja rusak tersebut, “siapa
namamu?” Tanya Lio dengan antusias
“namaku?” gadis itu lalu diam sebentar. Apa yang nama yang bagus ya? Lyla
mungkin. “ah namaku Lyla” kata gadis -Lyla- “lyla kau hebat! Bagaimana kau
bisa- ah kau murid darimana? Kau sangat pintar! Ah bukan, kau cerdas banget!”
semua yang ada di sana cuman diam, bingung dengan apa yang dibicarakan oleh
Lio. Guru tersebut lalu mendekati Lio dan berbincang bincang sebentar sesekali
melihat kea rah Lyla yang bingung. “maaf atas kekeliruan kami, kami akan
memberimu beasiswa untuk sekolah disini.” “be-beasiswa?!” kata siswa yang lain
“ya ternyata diluar dugaan kami ternyata dia adalah remaja yang benar-benar
cerdas” “wah selamat ya!” kata Lio
sambil menepuk bahu Lyla yang wajahnya memerah “ah sepertinya aku pernah
melihatmu di suatu tempat, ah ya kau gadis yang ditabrak oleh supirku beberapa
hari yang lalu maaf ya”. Mereka lalu mulai belajar seperti biasa lagi dengan
murid tambahan Lyla yang kini sudah memakai seragam sekolah.
***
“rambutmu
seharusnya di rapiin dikit” kata Lio sambil melihat ke arah Lyla “iya benar” kata
Tiara mereka sedang berjalan menuju ke rumah masing masing, “nih aku bawa
karet” tiara memberikan karet kepada Lyla gadis itu menerimanya “terima kasih”
“yaudah aku duluan ya bye!” Tiara lalu masuk ke dalam sebuah rumahnya. Mereka
berdua larut dalam diam, “hei pakai karetmu jangan hanya di mainkan” kata Lio,
memecahkan keheningan, “ah aku tidak bisa, kamu bisa ajarin aku?” “hadeehh kamu
kan perempuan” Lio lalu mengambil karet tersebut “emangnya kamu tidak pernah
mengikat rambutmu?” “aku hanya memotongnya pendek, agar lebih mudah” “oh…” Lio
lalu melihat rambut Lyla yang memang pendek, mungkin satu satunya bagian rambut
yang panjang hanya ada di depannya, tepatnya di depan mukanya. “ah kurasa kau
perlu jepit rambut bukan karet” kata Lio “kau punya?” Lyla menggeleng. “aku
akan belikan tunggu disini” kata Lio sambil masuk ke dalam sebuah toko
aksesoris yang dekat dengan mereka. Lyla menunggu diluar. Lio lalu keluar dan
menjepit rambut Lyla, memperhatikan wajahnya sesaat. “eh kenapa kau menatapku
seperti begitu?” Tanya Lyla yang canggung di perhatikan seperti itu. Lio
menggeleng “kamu cantik” pipi Lyla memerah “ah um te-terima kasih!” “salah
tingkah ceritanya?” “a-anu kamu tidak dijemput? Katanya kamu punya supir” Lio
diam sebentar “dia lagi sakit aku jadinya harus pulang sendiri, naik bus” dia
meregangkan tangannya sebentar “aku rasa naik angkutan umum sangat panas dan
sesak. Dia menoleh sebentar “aku sebenernya lebih suka naik mobil pribadi namun
mobilnya lagi dibawa sama Ibu. “oh…”, “oh ya rumahmu dimana?” “tak jauh dari
sini mungkin dengan jalan kaki aja udah sampai” “oh… truss orang tua-mu kerja
dimana?” “... ayahku sakit ibuku aku tak tau” mereka lalu larut dalam diam “oh
ya alamat rumahmu dimana? Katanya tak jauh dari sini” “di Desa Daun” “eh
bukannya itu jauh?! Butuh waktu berjam-jam buat sampai disana dengan berjalan
kaki, mungkin setengah hari! Kamu tidak naik kereta, bus, angkutan umum?” “oh
tidak aku hanya berjalan” “kau bilang ‘hanya’ itu jauh we, bagaimana kalau kau
naik bus denganku? Kebetulan searah, nanti aku deh yang bayarin ongkosnya”
tangannya ditarik ketika sebuah bus berhenti tak jauh dari mereka. Di dalam
perjalanan mereka diam. Apa yang sama dengan mukanya ya? Kenapa aku merasa
pernah melihatnya jauh daripada hari itu, wajah yang sudah biasa aku lihat
setiap hari entah siapa aku tidak tau, mirip dengan siapa aku lupa. Batin Lio
sambil melihat Lyla yang tertidur di Bus. Aku yakin dia telah melewati banyak
hal sebelum ini, batinnya. Mungkin sebaiknya aku juga beristirahat, Lio melihat
ke luar Bus kayaknya kebiasaanku buat tidur di kendaraan mulai bekerja. Baru
saja Lio ingin menutup matanya dan tidur
sebentar. Terdengar suara bel kendaraan menyahut-nyahut, suara gesekan ban
dengan jalan. Bunyi benda berbenturan, sontak saja dia langsung terbangun,
kejadian itu terlalu cepat, dia tak tau Lyla sudah bangun atau tidak namun
setidaknya dia harus melindungi gadis itu sebelum benda yang terbuat dari besi
tersebut melukai dirinya.
***
Lyla
mulai membuka matanya, bau obat-obatan menusuk hidungnya. Dia melihat
sekeliling, “mungkin aku ada di rumah sakit” katanya sambil turun dari kasur.
Dia melihat ke perban tipis yang membalut tangannya. Dia lalu mengalihkan pandangannya
ke luar ruangan. Sekilas dia melihat beberapa perawat mendorong seorang pemuda
yang penuh darah tersebut dengan tergesah gesah. Matanya lalu membesar, pemuda
tersebut “Lio…” dia lalu berlari keluar ruangan, mengikuti mereka. “maaf anda
tidak boleh masuk” “ta-tapi dia teman saya dok” “baiklah anda tunggu saja
disini” pikirannya tidak tenang, dia berjalan bulak-balik baru kali ini dia
merasakan kegelisahan yang teramat sangat. “maaf sepertinya teman anda
kekurangan darah” “A-APA?!” “stok darah kami sudah habis, jika begini nyawanya
tidak akan tertolong” “sa-saya akan mendonorkan darah saya dok” “tapi tipe
darahnya-” “saya mohon dok” Dokter itu mengangguk. Lyla mendonorkan darahnya,
setelah menerima kabar bahwa Lio sudah membaik dia lalu pergi meninggalkan
rumah sakit. Ini pasti gara-gara aku,
dia pasti menolongku sewaktu kejadian itu batinnya. Dia menatap ke langit lalu
memandang seragam abu-abunya. Setidaknya aku mempunyai sesuatu yang akan
membanggakan ayahku. Dia lalu berlari dengan semangat menuju rumahnya, namun
hal yang mengejutkan malah datang menimpanya, “AYAH!!!”. Seusai pemakaman ayahnya
Lyla langsung berlari pergi entah itu kemana, Pak RT dan Buk RT hanya bisa
melihat gadis itu berlari menerobos hujan. Tak mampu berbuat apa-apa.
***
“ah
ibu tak usah khawatir” kata Lio sambil tertawa, “ibu tidak mau lagi kehilangan
anggota keluarga ibu, ibu sayang kamu Lio” ibunya memeluknya “haduhh bu jangan
gitu donk malu ah” kata Lio. “oh ya dok siapa tadi yang mendonorkan darahnya
untukku? Ibuku?” Tanya Lio ketika Ibunya sedang mengurus administrasi rumah
sakit. “seorang gadis, dia bilang tadi dia adalah teman anda” Lio diam pasti
yang dimaksud dokter tadi adalah Lyla “sekarang dia dimana dok?” “dia telah
pergi dari rumah sakit, dia menitipkan ini kepada saya” Dokter tersebut
memberikan secarik kertas kepada Lio.setelah membacanya Lio mendesah pelan lalu
melihat ke cermin yang tak jauh dari situ. Melihat pantulan dirinya yang
sekarang memakai pakaian pasien rumah sakit, beberapa detik kemudian matanya
mulai membesar. “tu-tunggu dulu!” katanya. Setahuku kata ibu golongan darahku langka
dan dan… a-aku harus menemui Lyla apa pun yang terjadi batinnya sambil pergi
dari rumah sakit, “ibu aku pergi dulu!!” kata Lio “tu-tunggu Lio berhenti!”
kata Ibunya. Mobil mereka berhenti di rumah Pak RT, namun kata anaknya Pak RT
sedang pergi ke pemakaman ayahnya Lyla. “maaf pak kami mengganggu seben-” kata
kata Ibunya Lio berhenti setelah melihat foto yang tersandar di batu nisan
tersebut. Seketika dia menangis “mbak kenapa menangis?” Tanya Buk RT “su-suami
saya dia apakah….”.
“kenapa!
Kenapa ini terjadi kepadaku!!!” teriak Lyla di tengah taman, hujan yang
mengguyur dia biarkan saja membasahi tubuhnya. “aku aku tidak peduli lagi” Lyla
duduk dan memeggangi lututnya. Dia merasakan air hujan tidak lagi membasahinya,
“Lyla apa yang kau lakukan?” Tanya Lio dia lalu jongkok untuk menyamakan
tingginya, “tidak, tidak ada sekarang pulanglah kau butuh istirahat yang
banyak”. “hei bolehkah aku membeli sesuatu darimu?” “apa?” “kesedihanmu” “buat
apa?” “hei kau tak mau menjual kesedihanmu? Aku tukarkan deh dengan kebahagiaan
mau tidak?” “tidak, aku bukanlah orang yang sudak menjual perasaannya termasuk
kesedihannya, sekarang kau lebih baik pulang” “kalau kamu tidak mau menjualnya
bagaimana kalau aku menjual kebahagiaaankun untukmu? Kau tak suka transaksi
jual beli ya?” “kenapa kau masih disini? Pergilah!” “hadeeh… aku tak mungkin
meninggalkan kamu disini, hujan hujanan lagi” “kenapa?” “aku tidak mungkin
meninggalkan saudara kembarku disini karna aku udah berjanji akan menjaganya
ketika kami masih kecil, yah tepatnya sebelum kecelakaan itu datang” Lyla diam
“hei kok diam” “aku saudara kembarmu?” “kau tak percaya nih sekarang perhatiin
wajah kita” kata Lio sambil mengeluarkan kaca kecil dari sakunya. Ketika
melihat pantulan wajahnya seketika dia memeluk Lio dan menangis. “hei sudahlah
jangan menangis” kata Lio “aku dan Ibu janji akan menjagamu jadi tenang saja,
oh ya aku juga bisa mengajarkanmu ilmu ekonomi kalau kau mau, aku jago banget
dalam urusan jual beli” Lyla langsung mendorong tubuh Lio “dasar modus!”
keduanya lalu tertawa dibawah hujan.
Komentar
Posting Komentar