Langsung ke konten utama

Kategori Cerpen EMO (emergency robot) by shanti



 EMO (emergency robot)
by Ni Wayan Shanti Savitri
DOSMAN's Student
 cattatan : karna EMC memberiku banyak inspirasi


Namaku Emo, umurku 17 tahun aku bersekolah di salah satu SMA terfavorit di  kota kelas 12. Hari ini aku tertidur lagi seperti biasanya dan aku nggak ingat dengan apa yang terjadi sebelum itu, yang pasti aku selalu datang pagi dan ketiduran di kelas ketika aku sudah sampai. Dan semua itu teman temanku yang memberitahuku, mereka semua orang baik. Hari ini hari jumat, waktunya untuk berolahraga. ''Emo kau udah siap dengan tes itu?'' tanya Hendra sambil meletakkan lengannya di belakang leherku. ''siap tentu saja seperti biasa'' jawabku, ''yo kalau begitu ayo kita pergi'' kata Hendra sambil berlari. Sekarang kami sudah sampai di lapangan, lapangannya berukuran 500 x 100 meter, kami melakukan pemanasan dahulu sebelum berlari. tes pertamanya adalah berlari keliling lapangan selama sepuluh menit. Dan kami bergiliran larinya, aku dapat giliran terakhir jadi harus sabar. Dari Gelombang pertama sampai gelombang ke 7  dapat berlari paling banyak 8 kali dan itupun diraih oleh si ketua kelas. Dan tibalah saatku berlari. Aku berlari sekuat tenaga dan hasilnya aku dapat berlari sebanyak 15 putaran. Semua anak bertepuk tangan dan itu membuatku yah tidak aku tidak merasakan sesuatu yang sepesial, sejauh yang kutau jika ada seseorang yang melakukan sesuatu dan hasilnya sangat baik jelas akan diberi suatu pujian itulah menurutku jadi aku diam saja saat mereka memberiku tepuk tangan bukankan itu benar?. Namun aku sedikit bingung karna Pak Guru tidak memberikan selamat atau apalah dan hanya menganggap hal itu 'tidak penting' namun aku tak pernah mengeluhkan itu kepada siapapun. Tak pernah. Emo adalah nama panggilanku di kelas, menurut Widi aku ini cowok jenius. Menurut Bima aku ini sangat kuat berlari, menurut Windi aku ini sangat tampan.
"Emo! Kau mau makan?'' tanya Harry sambil duduk di sampingku. "ah tidak aku tidak lapar"
"ah apa benar? Nanti perutmu itu keroncongan lho"
Aku menatap ke arah bawah, memang sedari tadi perutku tidak berbunyi, mungkin aku tidar lapar.
''ah aku tak la-'' baru saja aku ingin membalas perkataannya perutku langsung sakit, teramat. Rasanya kesadaranku mau hilang. Seperti ada kilatan cahaya dari langit. ''Cepat! Emo!'' teriak Harry sambil menopang badanku. Sepertinya aku belum menutup mataku sepenuhnya tetapi kenapa semuanya gelap. Lalu aku merasakan ada sesuatu yang sejuk mengalir di tenggorokanku. Sejuk sejuk sekali. Aku lalu membuka mataku kembali dan mendapati keempat temanku mereka sedang berbincang bincang. Lalu mulai menatap kearahku. ''eh sudah sadar ya Emo?'' tanya Hendra ''ya'' kataku tubuhku terasa beribu kali lebih segar dari yang tadi. ''syukurlah yuk ke kelas'' kata Geka sambil berjalan duluan keluar UKS. kami pun berjalan ke  kelas, suasana yang tadi ribut kembali tenang dengan hadirnya kami. Aku lalu duduk di kursiku, ''kamu tidak kenapa-napa kan?'' tanya Kristara ''tidak aku udah baikan'' ''syukurlah, ini gara - gara kamu! Makanya jangan lupain tugasmu!'' kata Kristara sambil menatap Diah, yang ditatap menoleh sambil masang muka kesel. ''kenapa sih harus aku yang di marahin kan bukan aku saja yang bertugas'' Siska lalu memberi isyarat agar Diah diam, lalu Diah diam dan bergumam. aku lalu kembali membaca buku, 'sebenarnya apa sih yang mereka ributin?' batinnku. ''Sania ayo kita belanja'' ''ya ya tunggu sebentar'' bel tanda istirahat kembali berbunyi. ''aku mau minum air juga'' kataku sambil mengikuti Harry dan Hendra ''eh kau kan alergi sama air jangan minum'' kata Hendra ''bener tuh jangan maksain diri'' ''tapi aku haus'' ucapku berbohong. Kedua cowok tersebut lalu saling pandang ''tetep nggak bisa Mo'' kata Harry ''kok bisa begitu sih?'' kataku ''yah kalau begitu mungkin sebuah melon...'' ''kamu juga jangan makan melon'' sela Hendra ''iya benar'' kata Harry ''eh aku alergi dengan air? Lalu bagaimana caraku untuk memenuhi mineral yang ada di dalam tubuhku?'' tanyaku. Kedua cowok itu lalu menggeleng ''kami bukan orang tuamu'' aku lalu terdiam, ''ya sudah aku mau ke perpustakaan'' kataku. Aku lalu berjalan menuju ke perpustakaan berharap dapat menenangkan diri disana. Walau sebenarnya aku masih penasaran dengan diriku sendiri, aneh tapi nyata aku merasa aku ini anak yang aneh. Aku juga baru sadar sesuatu, aku tak tau bagaimana wajah orang tuaku. Baru kali ini aku penasaran dengan diriku sendiri. Aku membuka pintu perpustakaan dan mendapati 2 Orang yang sedang berdiri di rak buku dan seorang penjaga perpustakaan. salah satu diantara siswa yang sedang berdiri di sana adalah teman sekelasku. ''Vitri'' dia berbalik dengan ekspresi sedikit kaget. ''ada apa?'' ''kamu tau nggak tentang orang tuaku?'' entah kenapa pertanyaan itu meluncur melalui mulutku, ''bu bukannya kamu itu anak yatim piatu ya?''  ''ah apa benar?'' ''ya waktu dulu kamu memperkenalkan diri kamu bilang sampai sekarang kamu nggak tau gimana keadaan orang tuamu, kamu juga dapet bilang kalau ada kemungkinan orang tuamu itu meninggal ketika kamu masih kecil'' ''oh gitu ya?'' aku lalu duduk di kursi dia menatapku ''kamu nggak sama yang lain di kelas?'' aku menggeleng, terdengar bunyi bel berdentang tiga kali. ''ayo kita masuk ke kelas'' kata Vitri sambil tersenyum. Aku memandang keluar, guru matematika kami tidak datang, izin katanya. Disaat saat seperti ini kelasku akan membuat keributan, yah begitulah kalian pasti mengalaminya juga kan? Bel tanda pulang akan berbunyi 5 menit lagi. Aku melangkahkan kakiku keluar, dan pergi keluar sekolah dengan diam diam.  Berjalan jalan di taman, aku merasa tidak akan ada masalah nanti di sekolah karna Bagus dan yang lainnya pernah pulang lebih cepat 5 menit sebelum bel. Aku tidak membawa tasku. Di dekat kolam aku lihat ada anak anak sedang memancing disana. Ini tempat umum kan? Aku lalu berjalan mendekati mereka. ''kalian sedang ngapain disini?'' tanyaku sambil jongkok membuat posisi yang pas untuk berbicara dengan salah satu anak kecil yang ada di sana  ''mancing kak! Seru lho!'' katanya sambil menarik kailnya ''wah dapet ikan!'' katanya ceria. ''ku kira kamu ada dimana'' kata Harry ''Harry?! Kok kamu bisa ada disini?'' tanyaku ''ya ngikutin kamu soalnya aneh tau tumben sekali kamu bolos''  kata Harry sambil ikutan jongkok ''bagaimana kalau setelah ini kita jalan? Kita sekelas bakalan pergi ke Bedugul nanti'' ''nanti? Kok bukannya'' ''iya kita bakalan kemah disana kan kita yah kamu tau kan?'' Perpisahan sebuah kata yang sangat menyakitkan yah... Setelah acara pembagian nem kemarin semua siswa tampak agak bersedih walau ditutupin pakek tawa yang kadang dibuat buat.
''kamu nggak marah kan soal yang tadi?'' tanya Harry ''nggak kok siapa yang marah? Bukannya apa yang kamu katakan tadi benar''  jawabku. ''eh ayo kita akan berangkat'' kata Deka yang tiba tiba aja ada di belakangku. ''tuh truknya udah tiba'' lanjutnya sambil menunjukkan sebuah truk yang tak jauh terpakir dari taman. ''aku belum siap'' kataku ''udahlah semua perlengkapannya akan udah disiapin lebih dari seminggu yang lalu ayo cepat!'' katanya Deka dengan wajahnya yang sedikit rengas sekarang berkata dengan sangat baik, biasanya dia bakalan pakai bahasa yang sedikit kasar namun kali ini aku melihat hal yang lain. Mereka dapat berubah yah.
''wah apinya hangat banget'' kata Windy sambil mendekatkan telapak tangannya di api unggun ''kamu nggak kedinginan?'' tanyanya kepadaku, aku menggeleng aku tidak merasa dingin sekarang maka dari itu aku tak memakai jaket.
''eh Emo dari kelas E itu aneh kan?'' ''benar anak yang aneh tiba tiba aja sekolah disini selama setahun kau tau? Dia yang meraih nilai UN sesekolah'' entah kenapa aku dapat mendengar suara itu. ''ada apa Emo?'' tanya Widi sambil duduk di sampingku. ''hah dia kan emang aneh, kayaknya dia bukan manusia'' ''ah ya benar aku jadi iri dia kayak manusia yang sempurna banget'' ''eh jangan jangan kamu naksir ama dia ya?'' ''nggak kok! Dia kan anak yang aneh gayanya berjalan lho! Kalian nggak pernah merhatiin?''
''Widi menurutmu aku ini manusia?'' tanyaku dia diam sebentar ''tentu saja'' jawabnya ''lalu apakah ada yang salah dengan caraku berjalan?'' tanyaku lagi ''nggak kok! Siapa yang bilang?'' ''beberapa orang'' ''hah? Aku rasa tadi nggak ada deh yang ngomongin tentang kamu disekitar sini'' kata Widi
''haha kau bercandanya kelewatan banget tuuh Fiana jadi nagis'' ''ah bagaimana kalau kita besok jalan jalan?'' suara yang tadi membicarakan tentangku, aku lalu menemukan sumbernya ''itu mereka'' kataku sambil menunjuk ke salah satu tenda yang ada di jarak 100 meter dengan tenda kami. ''eh oh gi gitu ya?'' kata Widi sambil tersenyum kaku ''bagaimana kalau kamu main keyboard yang ada disana?'' aku lalu bangkit dan berjalan mendekati Keyboard tersebut. Kami bernyanyi dan menari, kadang kadang tertawa karna candaan dari salah satu teman kami. Entahlah aku sepertinya merasakan sesuatu yang aneh, ini membuatku seperti melupakan segala yang ada di pikiranku, kayak sedang terbang tinggi dan bermain diatas awan, menyenangkan. Seperti inikah rasa senang itu? Kenapa aku baru merasakannya? Ah kenapa ini agak aneh? Tiba tiba saja dadaku agak sesak. Harry menutup tenda kami. Satu tenda ini diisi oleh Harry, Hendra, Widi dan diriku. ''selamat malam...'' mereka lalu tidur, aku tetap terjaga tidak bisa tidur. Aku lalu merubah ubah posisiku dari terlentang lalu menelungkup. Aku lalu menutup kepalaku dengan bantal kukira akan berhasil namun aku tetap saja tak bisa tidur. Tiba tiba aja Widi bangun ''kamu belum bisa tidur ya? Aku bantuin ya?'' matanya masih agak mengantuk entah apa yang membuatnya terbangun yang pasti tadi aku tak mengeluarkan suara yang begitu keras. ''balikan badanmu ayo akan ku urut men'' katanya aku menurut saja dan membalikan badanku. ''hoahem...'' aku mulai menguap mataku rasanya berat banget dan aku mulai tertidur.

''apa tak apa?'' tanya Hendra sambil mengambil posisi duduk
''dia belum tau kan?'' tanyanya lagi
''kurasa belum dan biarlah seperti ini'' kata Widi
''kupikir dia bakalan marah gara gara perkataanku ama Harry tadi''
''yah makanya aku tadi mengejarnya ketaman''
''apakah dia memiliki perasaan?'' tanya Harry kemudian
''aku berharap iya karna kita telah melewati banyak hari dengannya'' mereka lalu terlelap
aku terbangun ketika suara ayam berkokok membangunkanku. Entahlah setahuku di daerah dekat gunung ini jarang sekali ada ayam palingan dikurung dirumah warga. Aku melirik sekitarku. Dan aku menemukan sumber suara kokokan ayam tersebut. Aku lalu mengguncang guncangkan badan Widi supaya cowok tersebut terbangun. Bersama bunyi alarm HP nya aku berharap dia bisa bangun lebih cepat.
''huwwaa!!! Gempa!!!'' teriaknya lalu bangun. Alhasil semua yang ada di tenda terbangun, dan menatap Widi yang bangun dengan tatapan tak bermakna. ''ayo mandi'' kata Harry sambil keluar dari tenda, kami lalu mengikutinya dari belakang namun,
''kamu nggak boleh ikut mandi'' kata Widi sambil menghentikan langkahku aku menatapnya ''kenapa?'' ''nanti kamu sakit kamu kan alergi er... Sama air'' kata Hendra ''iya lebih baik kau mengganti baju saja ya!'' kata Harry. Aku menurut dan masuk ke dalam tenda. ''emo tolong bantuin aku mengumpulkan kayu bakar'' kata Bagas ''baik baik'' kataku sambil mengikuti langkah kakinya. Kami memungut kayu kering yang ada di sekitar situ. Bagas lalu melangkah ke arahku namun tiba tiba saja dia terpeleset dan kayunya jatuh ke sungai. Spontan saja tanganku terulur masuk ke dalam air sungai itu ''Emo jangan!'' teriak Bagas ''aku nggak kenapa tapi kamu jangan basahin diri kamu, kamu kan alergi sama air'' katanya ketika aku membawa kayu kayu basah tersebut ''aku tak sakit kok!'' kataku sambil tersenyum ''nanti kita jemur saja kan nanti kayunya dipakai saat malam hari pas api unggun. ''tapi tanganmu..'' ''sudah kubilang ayo'' kataku, kami lalu berjalan menuju ke perkemahan, aku dapat melihat guratan guratan kegelisahan yang ada di wajahnya. Ah apakah aku membuat kesalahan yang besar? Kami lalu sampai di tenda, ''kata Bagas tadi tanganmu ke cemplung ya?'' tanya Pratiwi ''iya nggak sakit tuh?'' tanya Mitha ''ng-" aku lalu merasakan sakit di sekujur tanganku. ''sa sakit'' kataku ''ah cepat! Pa panggil Okti dan yang lain!'' teriak mereka. Kepalaku mulai pusing aku melihat beberapa temanku berlari ke arahku sebelum semuanya gelap.

Aku berkeliling kebun stroberi itu, setelah kejadian tadi, Okti memberikan sebuah slop tangan yang terbuat dari plastik. Katanya supaya aku nggak sakit lagi kayak tadi. Ah benar benar teman yang perhatian. Entah kenapa aku merasa bahwa aku tidak ingin jauh jauh dari mereka, entah kenapa aku merasa bel pulang sekolah seharusnya tak berdentang. Entah kenapa aku sangat ingin tertawa disaat salah satu dari kami mengeluarkan lelucon, dulu saat ini dan seterusnya aku ingin seperti ini. Ingin selalu bersama dengan mereka. Aku juga ingin ikut menangis disaat salah satu dari kami menangis namun kenapa. Tu tunggu dulu! Kenapa yah ada yang aneh?, aku menatap sekeliling, kebun stroberi yang tadi kutinggalkan keberadaannya dan hanyut dalam perasaanku sendiri. Perasaan? Ah ya kenapa aku baru merasakan hal seperti ini? Bingung dengan keadaan diriku sendiri, aku sendiri juga mulai bingung dengan diriku. Yah sudahlah jalan jalan mungkin dapat...
Ah sepertinnya aku terpisah dari rombongan yang lain. Aku lalu diam memandang beberapa anak kecil yang bernyanyi sambil memetik stroberi. Merasa diperhatikan oleh diriku salah satu dari mereka lalu menarik tanganku dan mengajakku ikut memetik stroberi bersama. ''kakak ayo ikutan nyanyi'' kata Gadis berkuncir dua tersebut ''eh? Tapi kakak nggak pernah nyanyi, dan kakak nggak tau bagaimana caranya bernyanyi'' terlalu jujur? Ya memang seingatku aku belum pernah menyanyi sebelumnya. ''yah kakak masa nggak tau cara menyanyi?'' kata salah satu anak laki laki sambil menarik narik kaosku ''mungkin kakak tak tau lagunya biar aku beritahu'' kata gadis dengan tutup telinga biru tersebut ''...stroberi stroberi warnanya merah manis dan segar... Lalalalal...'' dia menyanyi dengan penuh kegembiraan ''stroberi stroberi warnanya merah manis dan segar lalalalala...'' kupandangi wajah mereka, menurutku suaraku aneh jadi wajar saja kalau mereka bengong kayak gitu ''hahaha! Kakak memang tidak bisa bernyanyi!'' anak laki laki itu tertawa sambil memegang perutnya ''kakak tidak bisa maksudku benar benar tak bisa bernyanyi?'' kata gadis yang memakai tutup telinga tersebut ''kakak lebih parah dari seseorang yang memiliki suara serak, setidaknya dia bisa bernada tapi kakak nyanyianmu tidak bernada sama sekali'' ''seperti orang yang membaca pidato'' kata anak laki laki yang daritadi diam ''seperti robot!'' ''yah tidak apa-apa yuk kak bantu kami metik stroberinya'' kata gadis berkuncir dua tersebut.

Setelah membantu mereka aku pun berjalan kembali menuju ke tempat perkemahan. Tiba - tiba saja aku mendengar seseorang berteriak dengan kencang sontak saja aku berlari menuju ke sumber suara. Seorang siswi berlari dikejar kerbau. Aku pikir kerbau itu adalah salah satu penduduk di sekitar sini. ''Tolong Aku!!'' katanya sambi berlindung di belakangku. Aku lalu mulai mencari benda yang dapat melindungi diri kami. Aku mengambil balok kayu yang tergeletak tak jauh dari tempatku berdiri. Kerbau itu semakin dekat tanganku mengenggam erat balok kayu tersebut. Aku pun memukul kerbau itu saat dia ada di depanku, namun sayang aku tidak ingat apa yang terjadi pada seseorang yang nekat untuk melawan hewan besar tanpa berfikir kemungkinan yang akan terjadi. Bruk! Aku jatuh dan terus diserang oleh kerbau itu secara membabi buta. Kulihat Siswi tersebut sangat ketakutan. Dia memencet beberapa tombol di ponselnya. Bajuku robek, mukaku berantakan. Aku memegang kepala hewan tersebut dan reaksinya dia menggeleng dengan keras, karna tidak kuat aku terlempar ke arah semak berduri. Sakit sudah pasti menjalar ke tubuhku. Seorang bapak-bapak datang dan membawa kerbau itu pergi. Beberapa siswa juga terlihat datang. Mereka lalu membantuku berdiri. ''terima kasih maaf telah membuatmu terluka'' kata siswi tersebut ''ya tidak apa-apa kok'' kataku sambil mencabut beberapa duri yang ada di tubuhku. ''aw! Ternyata duri ini tajem'' kata seorang siswa sambil menutupi jarinya yang berdarah dengan kaosnya. ''kamu hebat banget, tubuhmu cuma tergores sedikit!'' kata siswa yang lainnya ''ayo kita ke tenda! Disana ada banyak obat obatan'' dia menarik tanganku. Aku mengikuti mereka menuju ke perkemahan. Teman sekelasku menatapku dengan wajah yang sangat cemas. ''ayo aku akan mengobati lukamu!'' kata Pratiwi sambil menarik tanganku. ''kau tadi yang di lukai oleh banteng itu ya?'' tanya Okti sambil membalut lukaku dengan perban. ''iya tapi tak kenapa kok!'' kataku. ''ya sudah nanti jangan lakuin lagi'' kata Okti ''tadi itu bahaya benget''.

Aku diam di dalam tenda, aku mulai merenuni kekurangan yang ada di dalam diriku ini. Tak bisa bernyanyi dengan baik, cara jalan yang aneh serta alergi yang aneh. Aku bisa mengerti kalau mereka menganggapku aneh. Aku mulai merebahkan diriku untuk tidur. namun sebuah benda membuatku terbangun. Sebuah pisau menancap dalam di lengan kiriku. Aku merasakan sakit lalu mencabut pisau tersebut. Aku pun balut tanganku dengan kain. ''semoga saja mereka tak tau'' batinku. Setelah beberapa jam duduk di dalam tenda sambil memainkan ponsel aku dipanggil ke luar tenda oleh Harry. Katanya acara puncaknya bakalan diadain. Aku bangkit dan secara tak sengaja kakiku menginjak sebuah kertas. ''apa ini?'' batinku lalu membawa kertas itu keluar. Kami duduk melingkar mengelilingi api unggun. Satu persatu mereka mengatakan kesan dan pesan sebagai ucapan perpisahan. Entahlah aku lebih tertarik dengan kertas yang ku temukan di tenda. Aku membaca isi kertas tersebut.
Emergency Robort type 1
energi : gasoline or electric
weight : 100 kg
........

Aku membaca setiap kalimat yang ada di kertas tersebut. Lalu mataku terpaku pada kalimat terakhir.
the maker are Widi, Okti, Pratiwi and Team
aku tak menyangka mereka bisa membuat robot bahkan tanpa aku sepertinya. Aku membaca tanggal robot itu dibuat. Kok sama ya dengan tanggal lahirku? Batinku. Robot ya robot. Tanpa sadar aku membuka sebuah lipatan yang ada di bawah kertas tersebut. Disana terdapat sebuah tulisan tangan Widi. Aku diam, tak tau harus begaimana. Disana tercantum nama robot tersebut. Aku meraba lukaku. Tak ada darah yang keluar dari sana. Bahkan kainnya tetap kering. Padahal tadi itu luka yang cukup parah. Tak bisa bernyanyi, cara jalan yang aneh, alergi dengan air, bisa bertahan di cuaca apapun. Jangan jangan...
''Emo sekarang giliranmu'' kata Hendra, aku bangun. ''selamat malam semuanya'' mereka memperhatikanku dengan antusias. ''sebentar lagi kita akan berpisah'' aku lihat beberapa dari mereka menyeka airmatanya ''aku mau tanya satu hal, apakah aku ini robot kalian?'' mereka diam semua ''ke kenapa kamu bilang gitu?'' tanya Widi sambil tertawa namun aku rasa tawa itu hambar. ''benarkan? Aku itu robot ciptaan kalian?'' tanyaku ''aku tak bisa menyanyi, alergi dengan air, tak bisa mengeluarkan darah bila terluka dan juga ini'' aku menunjukkan kertas tadi. Mereka terkejut, terutama Widi dan Okti. ''aku sangat sedih, aku ingin menangis namun tidak bisa. Aku banyak banget punya kenangan bersama kalian. Kalian menganggapku sebagai keluarga, dan sekarang kalian akan pergi ke universitas yang lain. Pada akhirnya aku akan sendiri juga. Aku senang kalian tidak menganggapku sebagai robot melainkan manusia. Aku senang sekali bisa bersama kalian satu tahun ini. Jadi sekarang aku ingin kalian mematikan sirkuitku ini, biarlah aku tertidur selamanya bersama kenangan tentang kalian. Aku inngin kalian menatap masa depan yang lebih cerah.'' kataku, mereka semua menangis. ''seandainya aku bisa menangis'' kataku lagi. ''maafkan kami tidak dapat membuatmu sempurna seutuhnya'' kata Okti sambil memelukku ''benar maafkan kami semua'' kata Harry ''terimakasih banyak telah mengisi hari hari kami''. Mereka lalu memelukku. Ya kehangatan ini sangat nyaman. Mereka lalu berhenti memelukku. ''baiklah kalau begitu ayo matikan sirkuitku! Nanti kalau kalian rindu tinggal bangunin aku dan aku akan menceritakan lagi kenangan kita'' kataku sambil tersenyum. Ayunda mendekatiku lalu memegang punggungku dan semuanya kembali menjadi gelap kembali.
''selamat tinggal Emo atau EMergency rObot. Tidur yang nyenyak ya!''

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

lirik lagu Blessing + terjemahan

pada awalnya aku sedikit bingung karna ada 13 bahasa maaf kalau ada yang salah. ini pakek google transelet nah langsung to the point, ini dia  lirik Blessing ~World Edition~ Lyrics: Blessings for your birthday Blessings for your everyday Saigo no ichi-byō made mae o muke Muitos rótulos vai receber e mesmo se tentar mudar O valor que vão dar a você ocupará esse lugar "Nascondi tutto ciò che sai in te, anche quello che non pensi mai" Quelle parole un tempo feci mie, e cercai di non lasciarle più Oh… It’s time to get up deungbul-eul kkeobeoligi jeon-e neo Oh… It’s time to get up balmit-eul han beon bichwobwa Kung susubukan mo lang na pagmasdang mabuti Saikō no mikata ga utsutterudesho? Det är det som visar att livet finns där Blessings for your birthday Blessings for your everyday Aunque el mundo se pueda acabar, disfrútalo Blessings for your birthday Blessings for your everyday Zhídào zuìhòu de yī miǎo wǒ yě huì táitóu xiàn...

Tentang Novel : Garis Waku by Fiersa Besari

  Judul : Garis Waktu Penulis : Fiersa Besari Penerbit : Media Kita Tahun terbit : 2016 Blurb : Pada sebuah garis waktu yng merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang uang mengubah hidupmu untuk selamanya. Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan. Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada tiitik - titik kenangan tertentu. Maka, iklaskan saja kalau begitu. Karena sesungguhny, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan. POV : Sudut pandang orang pertama Alur : Alur cerita maju Tema: sesuai dengan apa yang ada pada blurb, kita pasti bisa menebak bahwa cerita ini tentang cinta atau romansa, yang mungkin tidak bisa dibilang begitu manis. Konflik : Konfliknya tidak banyak melebar, fokus pada satu konflik yaitu hubungan antara 'aku' dan 'kamu' Keterangan dari penulis (yang berusaha u...

Sasame yuki terjemahan

 Terjemahan lagu Sasame Yuki Cahaya hujan salju ... Jika tidak ada yang akan bekerja untuk saya Lalu aku akan memegang tangan Anda erat Tidak ada yang bisa dilakukan jika saya menangis Mungkin Anda akan mengatakan sesuatu tentang hal itu Aku pura-pura menjadi sangat patuh Berbalik ke arah sudut jalan Jika air mataku terlihat, maka saya akan kehilangan Merenungkan diam-diam sendiri Anda pasti Akan mengejar saya Akan menelepon saya nama saya juga Tanpa melihat ke belakang, saya tunggu Tapi Anda membiarkan saya meninggalkan Cahaya hujan salju Robekan kesedihan menjadi potongan-potongan Angin bertiup utara Biarkan anak-anak menjadi lebih kuat dengan kesederhanaan Biarkan semuanya mencair di sini dengan Menyesali Karena kenangan selalu Jadi, begitu indah Sampai wajah dan rambut saya basah Dan aku lupa tentang menjadi dingin Salju Light Menyesali Sepertinya itu akan berhenti, tetapi tidak berhenti Seperti hujan yang hanya hujan setengah Cinta yang buruk yang membuat orang menyerah S...