EMO (emergency robot)
by Ni Wayan Shanti Savitri
DOSMAN's Student
cattatan : karna EMC memberiku banyak inspirasi
Namaku Emo, umurku 17 tahun aku
bersekolah di salah satu SMA terfavorit di
kota kelas 12. Hari ini aku tertidur lagi seperti biasanya dan aku nggak
ingat dengan apa yang terjadi sebelum itu, yang pasti aku selalu datang pagi
dan ketiduran di kelas ketika aku sudah sampai. Dan semua itu teman temanku
yang memberitahuku, mereka semua orang baik. Hari ini hari jumat, waktunya
untuk berolahraga. ''Emo kau udah siap dengan tes itu?'' tanya Hendra sambil
meletakkan lengannya di belakang leherku. ''siap tentu saja seperti biasa''
jawabku, ''yo kalau begitu ayo kita pergi'' kata Hendra sambil berlari.
Sekarang kami sudah sampai di lapangan, lapangannya berukuran 500 x 100 meter,
kami melakukan pemanasan dahulu sebelum berlari. tes pertamanya adalah berlari
keliling lapangan selama sepuluh menit. Dan kami bergiliran larinya, aku dapat
giliran terakhir jadi harus sabar. Dari Gelombang pertama sampai gelombang ke
7 dapat berlari paling banyak 8 kali dan
itupun diraih oleh si ketua kelas. Dan tibalah saatku berlari. Aku berlari
sekuat tenaga dan hasilnya aku dapat berlari sebanyak 15 putaran. Semua anak
bertepuk tangan dan itu membuatku yah tidak aku tidak merasakan sesuatu yang
sepesial, sejauh yang kutau jika ada seseorang yang melakukan sesuatu dan
hasilnya sangat baik jelas akan diberi suatu pujian itulah menurutku jadi aku
diam saja saat mereka memberiku tepuk tangan bukankan itu benar?. Namun aku
sedikit bingung karna Pak Guru tidak memberikan selamat atau apalah dan hanya
menganggap hal itu 'tidak penting' namun aku tak pernah mengeluhkan itu kepada
siapapun. Tak pernah. Emo adalah nama panggilanku di kelas, menurut Widi aku
ini cowok jenius. Menurut Bima aku ini sangat kuat berlari, menurut Windi aku
ini sangat tampan.
"Emo! Kau mau makan?'' tanya
Harry sambil duduk di sampingku. "ah tidak aku tidak lapar"
"ah apa benar? Nanti perutmu
itu keroncongan lho"
Aku menatap ke arah bawah, memang
sedari tadi perutku tidak berbunyi, mungkin aku tidar lapar.
''ah aku tak la-'' baru saja aku
ingin membalas perkataannya perutku langsung sakit, teramat. Rasanya
kesadaranku mau hilang. Seperti ada kilatan cahaya dari langit. ''Cepat! Emo!''
teriak Harry sambil menopang badanku. Sepertinya aku belum menutup mataku
sepenuhnya tetapi kenapa semuanya gelap. Lalu aku merasakan ada sesuatu yang
sejuk mengalir di tenggorokanku. Sejuk sejuk sekali. Aku lalu membuka mataku
kembali dan mendapati keempat temanku mereka sedang berbincang bincang. Lalu
mulai menatap kearahku. ''eh sudah sadar ya Emo?'' tanya Hendra ''ya'' kataku
tubuhku terasa beribu kali lebih segar dari yang tadi. ''syukurlah yuk ke
kelas'' kata Geka sambil berjalan duluan keluar UKS. kami pun berjalan ke kelas, suasana yang tadi ribut kembali tenang
dengan hadirnya kami. Aku lalu duduk di kursiku, ''kamu tidak kenapa-napa kan?''
tanya Kristara ''tidak aku udah baikan'' ''syukurlah, ini gara - gara kamu!
Makanya jangan lupain tugasmu!'' kata Kristara sambil menatap Diah, yang
ditatap menoleh sambil masang muka kesel. ''kenapa sih harus aku yang di
marahin kan bukan aku saja yang bertugas'' Siska lalu memberi isyarat agar Diah
diam, lalu Diah diam dan bergumam. aku lalu kembali membaca buku, 'sebenarnya
apa sih yang mereka ributin?' batinnku. ''Sania ayo kita belanja'' ''ya ya
tunggu sebentar'' bel tanda istirahat kembali berbunyi. ''aku mau minum air
juga'' kataku sambil mengikuti Harry dan Hendra ''eh kau kan alergi sama air
jangan minum'' kata Hendra ''bener tuh jangan maksain diri'' ''tapi aku haus''
ucapku berbohong. Kedua cowok tersebut lalu saling pandang ''tetep nggak bisa
Mo'' kata Harry ''kok bisa begitu sih?'' kataku ''yah kalau begitu mungkin
sebuah melon...'' ''kamu juga jangan makan melon'' sela Hendra ''iya benar''
kata Harry ''eh aku alergi dengan air? Lalu bagaimana caraku untuk memenuhi
mineral yang ada di dalam tubuhku?'' tanyaku. Kedua cowok itu lalu menggeleng
''kami bukan orang tuamu'' aku lalu terdiam, ''ya sudah aku mau ke
perpustakaan'' kataku. Aku lalu berjalan menuju ke perpustakaan berharap dapat
menenangkan diri disana. Walau sebenarnya aku masih penasaran dengan diriku
sendiri, aneh tapi nyata aku merasa aku ini anak yang aneh. Aku juga baru sadar
sesuatu, aku tak tau bagaimana wajah orang tuaku. Baru kali ini aku penasaran
dengan diriku sendiri. Aku membuka pintu perpustakaan dan mendapati 2 Orang yang
sedang berdiri di rak buku dan seorang penjaga perpustakaan. salah satu
diantara siswa yang sedang berdiri di sana adalah teman sekelasku. ''Vitri''
dia berbalik dengan ekspresi sedikit kaget. ''ada apa?'' ''kamu tau nggak
tentang orang tuaku?'' entah kenapa pertanyaan itu meluncur melalui mulutku,
''bu bukannya kamu itu anak yatim piatu ya?''
''ah apa benar?'' ''ya waktu dulu kamu memperkenalkan diri kamu bilang
sampai sekarang kamu nggak tau gimana keadaan orang tuamu, kamu juga dapet
bilang kalau ada kemungkinan orang tuamu itu meninggal ketika kamu masih
kecil'' ''oh gitu ya?'' aku lalu duduk di kursi dia menatapku ''kamu nggak sama
yang lain di kelas?'' aku menggeleng, terdengar bunyi bel berdentang tiga kali.
''ayo kita masuk ke kelas'' kata Vitri sambil tersenyum. Aku memandang keluar,
guru matematika kami tidak datang, izin katanya. Disaat saat seperti ini
kelasku akan membuat keributan, yah begitulah kalian pasti mengalaminya juga
kan? Bel tanda pulang akan berbunyi 5 menit lagi. Aku melangkahkan kakiku
keluar, dan pergi keluar sekolah dengan diam diam. Berjalan jalan di taman, aku merasa tidak
akan ada masalah nanti di sekolah karna Bagus dan yang lainnya pernah pulang
lebih cepat 5 menit sebelum bel. Aku tidak membawa tasku. Di dekat kolam aku
lihat ada anak anak sedang memancing disana. Ini tempat umum kan? Aku lalu
berjalan mendekati mereka. ''kalian sedang ngapain disini?'' tanyaku sambil
jongkok membuat posisi yang pas untuk berbicara dengan salah satu anak kecil
yang ada di sana ''mancing kak! Seru
lho!'' katanya sambil menarik kailnya ''wah dapet ikan!'' katanya ceria. ''ku
kira kamu ada dimana'' kata Harry ''Harry?! Kok kamu bisa ada disini?'' tanyaku
''ya ngikutin kamu soalnya aneh tau tumben sekali kamu bolos'' kata Harry sambil ikutan jongkok ''bagaimana
kalau setelah ini kita jalan? Kita sekelas bakalan pergi ke Bedugul nanti''
''nanti? Kok bukannya'' ''iya kita bakalan kemah disana kan kita yah kamu tau
kan?'' Perpisahan sebuah kata yang sangat menyakitkan yah... Setelah acara
pembagian nem kemarin semua siswa tampak agak bersedih walau ditutupin pakek
tawa yang kadang dibuat buat.
''kamu nggak marah kan soal yang
tadi?'' tanya Harry ''nggak kok siapa yang marah? Bukannya apa yang kamu
katakan tadi benar'' jawabku. ''eh ayo
kita akan berangkat'' kata Deka yang tiba tiba aja ada di belakangku. ''tuh
truknya udah tiba'' lanjutnya sambil menunjukkan sebuah truk yang tak jauh
terpakir dari taman. ''aku belum siap'' kataku ''udahlah semua perlengkapannya
akan udah disiapin lebih dari seminggu yang lalu ayo cepat!'' katanya Deka
dengan wajahnya yang sedikit rengas sekarang berkata dengan sangat baik,
biasanya dia bakalan pakai bahasa yang sedikit kasar namun kali ini aku melihat
hal yang lain. Mereka dapat berubah yah.
''wah apinya hangat banget'' kata
Windy sambil mendekatkan telapak tangannya di api unggun ''kamu nggak
kedinginan?'' tanyanya kepadaku, aku menggeleng aku tidak merasa dingin
sekarang maka dari itu aku tak memakai jaket.
''eh Emo dari kelas E itu aneh
kan?'' ''benar anak yang aneh tiba tiba aja sekolah disini selama setahun kau
tau? Dia yang meraih nilai UN sesekolah'' entah kenapa aku dapat mendengar
suara itu. ''ada apa Emo?'' tanya Widi sambil duduk di sampingku. ''hah dia kan
emang aneh, kayaknya dia bukan manusia'' ''ah ya benar aku jadi iri dia kayak
manusia yang sempurna banget'' ''eh jangan jangan kamu naksir ama dia ya?''
''nggak kok! Dia kan anak yang aneh gayanya berjalan lho! Kalian nggak pernah
merhatiin?''
''Widi menurutmu aku ini manusia?''
tanyaku dia diam sebentar ''tentu saja'' jawabnya ''lalu apakah ada yang salah
dengan caraku berjalan?'' tanyaku lagi ''nggak kok! Siapa yang bilang?''
''beberapa orang'' ''hah? Aku rasa tadi nggak ada deh yang ngomongin tentang
kamu disekitar sini'' kata Widi
''haha kau bercandanya kelewatan
banget tuuh Fiana jadi nagis'' ''ah bagaimana kalau kita besok jalan jalan?''
suara yang tadi membicarakan tentangku, aku lalu menemukan sumbernya ''itu
mereka'' kataku sambil menunjuk ke salah satu tenda yang ada di jarak 100 meter
dengan tenda kami. ''eh oh gi gitu ya?'' kata Widi sambil tersenyum kaku
''bagaimana kalau kamu main keyboard yang ada disana?'' aku lalu bangkit dan
berjalan mendekati Keyboard tersebut. Kami bernyanyi dan menari, kadang kadang
tertawa karna candaan dari salah satu teman kami. Entahlah aku sepertinya
merasakan sesuatu yang aneh, ini membuatku seperti melupakan segala yang ada di
pikiranku, kayak sedang terbang tinggi dan bermain diatas awan, menyenangkan.
Seperti inikah rasa senang itu? Kenapa aku baru merasakannya? Ah kenapa ini
agak aneh? Tiba tiba saja dadaku agak sesak. Harry menutup tenda kami. Satu
tenda ini diisi oleh Harry, Hendra, Widi dan diriku. ''selamat malam...''
mereka lalu tidur, aku tetap terjaga tidak bisa tidur. Aku lalu merubah ubah
posisiku dari terlentang lalu menelungkup. Aku lalu menutup kepalaku dengan
bantal kukira akan berhasil namun aku tetap saja tak bisa tidur. Tiba tiba aja
Widi bangun ''kamu belum bisa tidur ya? Aku bantuin ya?'' matanya masih agak
mengantuk entah apa yang membuatnya terbangun yang pasti tadi aku tak
mengeluarkan suara yang begitu keras. ''balikan badanmu ayo akan ku urut men''
katanya aku menurut saja dan membalikan badanku. ''hoahem...'' aku mulai
menguap mataku rasanya berat banget dan aku mulai tertidur.
''apa tak apa?'' tanya Hendra
sambil mengambil posisi duduk
''dia belum tau kan?'' tanyanya
lagi
''kurasa belum dan biarlah seperti
ini'' kata Widi
''kupikir dia bakalan marah gara
gara perkataanku ama Harry tadi''
''yah makanya aku tadi mengejarnya
ketaman''
''apakah dia memiliki perasaan?''
tanya Harry kemudian
''aku berharap iya karna kita telah
melewati banyak hari dengannya'' mereka lalu terlelap
aku terbangun ketika suara ayam
berkokok membangunkanku. Entahlah setahuku di daerah dekat gunung ini jarang
sekali ada ayam palingan dikurung dirumah warga. Aku melirik sekitarku. Dan aku
menemukan sumber suara kokokan ayam tersebut. Aku lalu mengguncang guncangkan
badan Widi supaya cowok tersebut terbangun. Bersama bunyi alarm HP nya aku
berharap dia bisa bangun lebih cepat.
''huwwaa!!! Gempa!!!'' teriaknya
lalu bangun. Alhasil semua yang ada di tenda terbangun, dan menatap Widi yang
bangun dengan tatapan tak bermakna. ''ayo mandi'' kata Harry sambil keluar dari
tenda, kami lalu mengikutinya dari belakang namun,
''kamu nggak boleh ikut mandi''
kata Widi sambil menghentikan langkahku aku menatapnya ''kenapa?'' ''nanti kamu
sakit kamu kan alergi er... Sama air'' kata Hendra ''iya lebih baik kau
mengganti baju saja ya!'' kata Harry. Aku menurut dan masuk ke dalam tenda. ''emo
tolong bantuin aku mengumpulkan kayu bakar'' kata Bagas ''baik baik'' kataku
sambil mengikuti langkah kakinya. Kami memungut kayu kering yang ada di sekitar
situ. Bagas lalu melangkah ke arahku namun tiba tiba saja dia terpeleset dan
kayunya jatuh ke sungai. Spontan saja tanganku terulur masuk ke dalam air
sungai itu ''Emo jangan!'' teriak Bagas ''aku nggak kenapa tapi kamu jangan
basahin diri kamu, kamu kan alergi sama air'' katanya ketika aku membawa kayu
kayu basah tersebut ''aku tak sakit kok!'' kataku sambil tersenyum ''nanti kita
jemur saja kan nanti kayunya dipakai saat malam hari pas api unggun. ''tapi
tanganmu..'' ''sudah kubilang ayo'' kataku, kami lalu berjalan menuju ke
perkemahan, aku dapat melihat guratan guratan kegelisahan yang ada di wajahnya.
Ah apakah aku membuat kesalahan yang besar? Kami lalu sampai di tenda, ''kata
Bagas tadi tanganmu ke cemplung ya?'' tanya Pratiwi ''iya nggak sakit tuh?''
tanya Mitha ''ng-" aku lalu merasakan sakit di sekujur tanganku. ''sa
sakit'' kataku ''ah cepat! Pa panggil Okti dan yang lain!'' teriak mereka.
Kepalaku mulai pusing aku melihat beberapa temanku berlari ke arahku sebelum
semuanya gelap.
Aku berkeliling kebun stroberi itu,
setelah kejadian tadi, Okti memberikan sebuah slop tangan yang terbuat dari
plastik. Katanya supaya aku nggak sakit lagi kayak tadi. Ah benar benar teman
yang perhatian. Entah kenapa aku merasa bahwa aku tidak ingin jauh jauh dari
mereka, entah kenapa aku merasa bel pulang sekolah seharusnya tak berdentang.
Entah kenapa aku sangat ingin tertawa disaat salah satu dari kami mengeluarkan
lelucon, dulu saat ini dan seterusnya aku ingin seperti ini. Ingin selalu
bersama dengan mereka. Aku juga ingin ikut menangis disaat salah satu dari kami
menangis namun kenapa. Tu tunggu dulu! Kenapa yah ada yang aneh?, aku menatap
sekeliling, kebun stroberi yang tadi kutinggalkan keberadaannya dan hanyut
dalam perasaanku sendiri. Perasaan? Ah ya kenapa aku baru merasakan hal seperti
ini? Bingung dengan keadaan diriku sendiri, aku sendiri juga mulai bingung
dengan diriku. Yah sudahlah jalan jalan mungkin dapat...
Ah sepertinnya aku terpisah dari
rombongan yang lain. Aku lalu diam memandang beberapa anak kecil yang bernyanyi
sambil memetik stroberi. Merasa diperhatikan oleh diriku salah satu dari mereka
lalu menarik tanganku dan mengajakku ikut memetik stroberi bersama. ''kakak ayo
ikutan nyanyi'' kata Gadis berkuncir dua tersebut ''eh? Tapi kakak nggak pernah
nyanyi, dan kakak nggak tau bagaimana caranya bernyanyi'' terlalu jujur? Ya
memang seingatku aku belum pernah menyanyi sebelumnya. ''yah kakak masa nggak
tau cara menyanyi?'' kata salah satu anak laki laki sambil menarik narik kaosku
''mungkin kakak tak tau lagunya biar aku beritahu'' kata gadis dengan tutup
telinga biru tersebut ''...stroberi stroberi warnanya merah manis dan segar...
Lalalalal...'' dia menyanyi dengan penuh kegembiraan ''stroberi stroberi
warnanya merah manis dan segar lalalalala...'' kupandangi wajah mereka,
menurutku suaraku aneh jadi wajar saja kalau mereka bengong kayak gitu ''hahaha!
Kakak memang tidak bisa bernyanyi!'' anak laki laki itu tertawa sambil memegang
perutnya ''kakak tidak bisa maksudku benar benar tak bisa bernyanyi?'' kata
gadis yang memakai tutup telinga tersebut ''kakak lebih parah dari seseorang
yang memiliki suara serak, setidaknya dia bisa bernada tapi kakak nyanyianmu
tidak bernada sama sekali'' ''seperti orang yang membaca pidato'' kata anak
laki laki yang daritadi diam ''seperti robot!'' ''yah tidak apa-apa yuk kak
bantu kami metik stroberinya'' kata gadis berkuncir dua tersebut.
Setelah membantu mereka aku pun
berjalan kembali menuju ke tempat perkemahan. Tiba - tiba saja aku mendengar
seseorang berteriak dengan kencang sontak saja aku berlari menuju ke sumber
suara. Seorang siswi berlari dikejar kerbau. Aku pikir kerbau itu adalah salah
satu penduduk di sekitar sini. ''Tolong Aku!!'' katanya sambi berlindung di
belakangku. Aku lalu mulai mencari benda yang dapat melindungi diri kami. Aku
mengambil balok kayu yang tergeletak tak jauh dari tempatku berdiri. Kerbau itu
semakin dekat tanganku mengenggam erat balok kayu tersebut. Aku pun memukul
kerbau itu saat dia ada di depanku, namun sayang aku tidak ingat apa yang
terjadi pada seseorang yang nekat untuk melawan hewan besar tanpa berfikir
kemungkinan yang akan terjadi. Bruk! Aku jatuh dan terus diserang oleh kerbau
itu secara membabi buta. Kulihat Siswi tersebut sangat ketakutan. Dia memencet
beberapa tombol di ponselnya. Bajuku robek, mukaku berantakan. Aku memegang
kepala hewan tersebut dan reaksinya dia menggeleng dengan keras, karna tidak
kuat aku terlempar ke arah semak berduri. Sakit sudah pasti menjalar ke
tubuhku. Seorang bapak-bapak datang dan membawa kerbau itu pergi. Beberapa
siswa juga terlihat datang. Mereka lalu membantuku berdiri. ''terima kasih maaf
telah membuatmu terluka'' kata siswi tersebut ''ya tidak apa-apa kok'' kataku
sambil mencabut beberapa duri yang ada di tubuhku. ''aw! Ternyata duri ini
tajem'' kata seorang siswa sambil menutupi jarinya yang berdarah dengan
kaosnya. ''kamu hebat banget, tubuhmu cuma tergores sedikit!'' kata siswa yang
lainnya ''ayo kita ke tenda! Disana ada banyak obat obatan'' dia menarik
tanganku. Aku mengikuti mereka menuju ke perkemahan. Teman sekelasku menatapku
dengan wajah yang sangat cemas. ''ayo aku akan mengobati lukamu!'' kata Pratiwi
sambil menarik tanganku. ''kau tadi yang di lukai oleh banteng itu ya?'' tanya
Okti sambil membalut lukaku dengan perban. ''iya tapi tak kenapa kok!'' kataku.
''ya sudah nanti jangan lakuin lagi'' kata Okti ''tadi itu bahaya benget''.
Aku diam di dalam tenda, aku mulai
merenuni kekurangan yang ada di dalam diriku ini. Tak bisa bernyanyi dengan
baik, cara jalan yang aneh serta alergi yang aneh. Aku bisa mengerti kalau
mereka menganggapku aneh. Aku mulai merebahkan diriku untuk tidur. namun sebuah
benda membuatku terbangun. Sebuah pisau menancap dalam di lengan kiriku. Aku
merasakan sakit lalu mencabut pisau tersebut. Aku pun balut tanganku dengan
kain. ''semoga saja mereka tak tau'' batinku. Setelah beberapa jam duduk di
dalam tenda sambil memainkan ponsel aku dipanggil ke luar tenda oleh Harry.
Katanya acara puncaknya bakalan diadain. Aku bangkit dan secara tak sengaja
kakiku menginjak sebuah kertas. ''apa ini?'' batinku lalu membawa kertas itu
keluar. Kami duduk melingkar mengelilingi api unggun. Satu persatu mereka
mengatakan kesan dan pesan sebagai ucapan perpisahan. Entahlah aku lebih
tertarik dengan kertas yang ku temukan di tenda. Aku membaca isi kertas
tersebut.
Emergency Robort type 1
energi : gasoline or electric
weight : 100 kg
........
Aku membaca setiap kalimat yang ada
di kertas tersebut. Lalu mataku terpaku pada kalimat terakhir.
the maker are Widi, Okti, Pratiwi
and Team
aku tak menyangka mereka bisa
membuat robot bahkan tanpa aku sepertinya. Aku membaca tanggal robot itu
dibuat. Kok sama ya dengan tanggal lahirku? Batinku. Robot ya robot. Tanpa
sadar aku membuka sebuah lipatan yang ada di bawah kertas tersebut. Disana
terdapat sebuah tulisan tangan Widi. Aku diam, tak tau harus begaimana. Disana
tercantum nama robot tersebut. Aku meraba lukaku. Tak ada darah yang keluar
dari sana. Bahkan kainnya tetap kering. Padahal tadi itu luka yang cukup parah.
Tak bisa bernyanyi, cara jalan yang aneh, alergi dengan air, bisa bertahan di
cuaca apapun. Jangan jangan...
''Emo sekarang giliranmu'' kata
Hendra, aku bangun. ''selamat malam semuanya'' mereka memperhatikanku dengan
antusias. ''sebentar lagi kita akan berpisah'' aku lihat beberapa dari mereka
menyeka airmatanya ''aku mau tanya satu hal, apakah aku ini robot kalian?'' mereka
diam semua ''ke kenapa kamu bilang gitu?'' tanya Widi sambil tertawa namun aku
rasa tawa itu hambar. ''benarkan? Aku itu robot ciptaan kalian?'' tanyaku ''aku
tak bisa menyanyi, alergi dengan air, tak bisa mengeluarkan darah bila terluka
dan juga ini'' aku menunjukkan kertas tadi. Mereka terkejut, terutama Widi dan
Okti. ''aku sangat sedih, aku ingin menangis namun tidak bisa. Aku banyak
banget punya kenangan bersama kalian. Kalian menganggapku sebagai keluarga, dan
sekarang kalian akan pergi ke universitas yang lain. Pada akhirnya aku akan
sendiri juga. Aku senang kalian tidak menganggapku sebagai robot melainkan
manusia. Aku senang sekali bisa bersama kalian satu tahun ini. Jadi sekarang
aku ingin kalian mematikan sirkuitku ini, biarlah aku tertidur selamanya
bersama kenangan tentang kalian. Aku inngin kalian menatap masa depan yang
lebih cerah.'' kataku, mereka semua menangis. ''seandainya aku bisa menangis''
kataku lagi. ''maafkan kami tidak dapat membuatmu sempurna seutuhnya'' kata
Okti sambil memelukku ''benar maafkan kami semua'' kata Harry ''terimakasih
banyak telah mengisi hari hari kami''. Mereka lalu memelukku. Ya kehangatan ini
sangat nyaman. Mereka lalu berhenti memelukku. ''baiklah kalau begitu ayo
matikan sirkuitku! Nanti kalau kalian rindu tinggal bangunin aku dan aku akan
menceritakan lagi kenangan kita'' kataku sambil tersenyum. Ayunda mendekatiku
lalu memegang punggungku dan semuanya kembali menjadi gelap kembali.
''selamat tinggal Emo atau
EMergency rObot. Tidur yang nyenyak ya!''
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus