Langsung ke konten utama

Kategori cerpen : Cosmos no kioku


COSMOS NO KIOKU
by ni wayan shanti savitri




“huwaa!!” teriak Jurina sambil terjun ke dalam bangunan sekolah, berlari sekuat tenaga agar segera sampai di dalam kelas. “ohayo…” sapanya sambil membuka pintu kelas “ohayo..” sahut teman – teman sekelasnya dengan tatapan ‘heran’. Beberapa ada yang menahan tawanya, Kumi lalu mendekati Jurina yang ‘sedikit’ keheranan melihat raut wajah teman temannya yang lain. Kumi ingin sekali mengeluarkan tawanya namun dia berusaha untuk menahannya sehingga pipinya sedikit memerah “ju.. ju.. jurina apa kau tau hari ini hari apa?” Tanya Kumi sambil membungkukkan badannya menyembunyika tawanya yang hampir meledak. “en.. nani Kumi?” Tanya Jurina “bajumu itu. Sekarang hari sabtu Jurina bukan hari senin” ucapk Kanako yang bisa menjaga ekspresinya. “Huwa!!! Gawat! Gawat!” teriak Jurina sambil membolak balikkan tubuhnya “aku ngak bisa menaha tawaku khu khu khu” Kumi melepas sedikit demi sedikit tawanya “ayo khu khu aku antar kau pulang khu khu..” kata Kumi. “benar sebaiknya kau cepat pulang sebelum sensei kesini” sahut Momo “ah hai!” kata Jurina sambil berlari keluar kelas diikuti oleh Kumi.  “khu khu khu aku tak bisa menahan tawaku tadi” kata Kumi sambil terus mengayuh sepedanya. “seharusnya aku lebih pagi tadi bangun dan melihat kalender” ucap Jurina sambil menatap ke depan. “nah ayo cepat!” kata Kumi ketika Jurina turun dari sepedanya. “ah ah tinggal 2 menit saja bel” kata Kumi sambil berlari di lorong sekolah, secepat yang mereka bisa ya secepat yang mereka bisa, mereka berlari dari lantai 1 menuju lantai 3. “Jurina Awas!” seru Kumi sambil mengerem laju larinya sedangkan Jurina tak memperhatikan langkahnya dan akibatnya. DUK! “aw” keluh Jurina “seharusnya kau mendengarkanku tadi” kata Kumi sambil mendekati Jurina dan seorang cowok yang sepertinya di tabrak oleh Jurina. “proyek Biologiku!” kata cowok tersebut sambil bangun “wah goemn gomen! Gomen! Gomen nasai! Gomen!” kata Jurina sambil terus membungkuk “eh kalau nanti lari lihat lihat! Baka!” kata cowok tersebut sambil mengambil proyek Biologinya “butuh 2 minggu untuk mengembalikannya” kata cowok tersebut sambil merapikan proyek biologinya “eh tunggu du-“ Jurina ingin memarahi cowok yang ada di depannya namun Kumi dengan cepat mengabil tangannya dan segera menariknya menjauh dari tempat itu. “ah… enak banget” kata Jurina sambil memakan bekalnya dikantin “oi Jurina nanti kita ada latihan di aula jam 3” kata Yuka sang ketua kelas “ya ya.. nyam” sahut Jurina sambil melahap onigirinya “eh Jurina bagaimana kalau nanti kita beli cola sebelum latihan?” Tanya Oya “eh?” “iya supaya kita ngak kehausan” sahut Akane “bener juga” gumam Jurina sambil menelan origininya. “cola cola cola…” Jurina dan Oya sekarang ada di dalam sebuah minimarket yang ada di dekat sekolah mereka. “nah itu dia!” gumam Jurina ketika dia menemukan rak minuman. “satu, dua,……” Jurina mulai mengambil beberapa minuman cola “bagaimana kalau segelas yogurt?” gumamnya sambil memikirkan wajah Anna yang notabenenya seorang penggemar Yogurt dan jarang sekali minum cola “aku beli deh” pikirnya sambil mengulurkan tangannya. “eh?” tangannya bertemu dengan tangan seseorang  “kau…” kata cowok tersebut “kau yang tadi pagi menambrakku kan?” tanyanya “ah eh…” Jurina mengingat kejadian tadi yang menurutnya sangat memalukan “ya sudah stok yogurt yang terakhir buatmu saja supaya kau bisa melihat dengan baik” kata cowok tersebut sambil melepaskan tangannya dan berjalan menuju ke rak yang lain “eh dasar!” gerutu Jurina. “Jurina cha!” panggil Oya yang sedang menenteng cemilan “hai!” Jurina berlari kecil menuju temannya. “untuk latihan kali ini kita akan menggunakan kelas kenkyuseinya” kata Yuka “jadi kita harus memilah kelas kenyusei ya?” Tanya Haruka “ya tentu saja… dan jangan khawatir kelas KII yang akan melakukan hal tersebut” jawab Yuka sambil melihat ke depan “oh itu dia seksi belanja kita telah datang” ucapnya ketika melihat Oya dan Jurina menenteng dua tas belanjaan yang besar. “mina! Salah satu dari kalian akan kami panggil untuk mengikuti latihan bersama kami” kata Tomoka “jadi yang terpilih nanti jam 3 siang tolong berkumpul di aula ya!” kata Reika. “wah senangnya kalau kita bisa latihan bersama mereka” kata salah satu peserta. “oke  Yamada Erika, Kobayashi Ami, Sakai Mei, Shibata Aya, Tsuzuki Rika, Nakamura  Yuka, dan Mizuno Honoka” “yang namanya terpanggil nanti jam 3 tolong ke aula sekolah ya!”. Teng! teng! teng! “Jurina tugas biologimu paling hancur” kata Sensei Tomoko sambil melihat hasil laporan Jurina “seharusnya kau kemarin mendengarkanku” kata Rena teman sebangkunya “ah iya benar…” kata Jurina “karna kau begini terus, sepulang sekolah nanti kau harus ke ruanganku” kata Sensei Tomoko “ha hai…” kata Jurina lemas, ya laporan Biologinya memang yang paling hancur selama 3 bulan terakhir ini. “kau harus sabar ya Jurina!” seru Oya “benar tuh” sahut Kanako sambil meminum segelas air. Teng! Tong! Teng! Tong! Dengan langkah yang sedikit lemas Jurina pergi ke kantor guru dan menemui Sensei Tomoko “ sumimasen, konichi wa” ucap jurina “oh konichiwa “ jurina lalu duduk di depan meja Sensei Tomoko “karna nilai laporanmu selalu buruk 3 bulan terakhir ini jadi sensei meminta bantuan seorang siswa yang sangat baik dalam mata pelajaran ini” kata Sensei sambil mengisyaratkan orang yang dimaksud. “konichi wa” kata siswa tersebut Jurina langsung bangun dan menengok ke belakang “ah dia….” Pikir Jurina “siswa yang kutabrak tadi pagi”. “nah Jurina dia Watanabe Manatsu dari kelas  KI” kata Sensei Tomoko “watashiwa Matsui Jurina Yoroshiku onegaishimasu (mohon bimbingannya) ” kata Jurina sambil membungkukkan badan “Watanabe Manatsu Yoroshiku onegaishimasu” “nah Natsu kau harus membantu Jurina selama satu minggu ini, sebagai murid yang paling cerdas di klub Biologi” “hai”.
“jadi nilai Biologimu paling buruk ya?” Tanya Manatsu sambil meletakkan beberapa buku di meja tepatnya di depan Jurina “ya benar” jawab Jurina sambil membuka selembar demi selembar buku tersebut “kau ternyata lebih buruk daripada apa yang kubayangkan” kata Manatsu “oh ya kau harus ganti rugi tugasku yang kau pecahkan tadi pagi” “maksudmu pot tanaman itu?” “benar” “dilihat lihat ternyata tugasmu memang hancur” kata Manatsu sambil melihat lihat hasil tugas Jurina yang mendapatkan nilai terkecil. “ah padahal aku telah berusaha…” ucapnya sambil berusaha menghafal isi buku yang dia pegang. 2 jam kemudian… “nah sudah selesai” kata Jurina sambil meregangkan tangannya “nggak ada yang ditanyain kan?” “ya cukup untuk hari ini, aku ada latihan” Manatsu menaikan alisnya satu “oh jadi kau murid senbatsu? Ku kira kenkyusei” BRAK! Emosi Jurina jatuh “soalnya nilaimu itu” ‘akan ku remas remas orang ini jika nggak ada peraturan disekolah’ geram Jurina “oh ya kau bilang tadi kau ada latihan” “eh?” perkataan tersebut berhasil membuyarkan imajinasi emosinya Jurina “sudah jam 3 siang, kau latihan jam berapa?” ‘what!?!’ “sa sayonara!” kata Jurina sambil berlari ke aula. “1 23 4” “hai hai hai!” sekarang mereka ada di aula sekolah, “one two three “. “baiklah cukup untuk latihan kali ini” kata Sensei sambil mengambil tasnya “sampai jumpa besok sayonara” “sayonara!” “fyuhh ternyata begini ya latihan murid senbatsu” kata Honoka sambil menyeka keringatnya “em benar” sahut Mei sambil duduk “Mina! Saatnya minum dan makan cemilan!” seru Yuka sambil membawa semua belanjaan tadi. “huwaa!!!” “nyam nyam eh Jurina bagaimana tadi ku dengar kau dipanggil” kata Anna “aku diberikan guru privat” kata Jurina sambil meminum sodanya “wah siapa yang menjadi guru privatmu? Senpai Sayaka?” BYUR! “bukan bukan dia laki laki” kata Jurina sambil mengelap mulutnya. “ahh…!!!” erang Jurina “katanya mudah ternyata susah juga” katanya sambil mencoba mengulang menyayat kulit sebuah pohon “kalau saja aku tak menabraknya kemarin” gerutunya.
 KRING! “hah?” Jurina meraba raba sekitarnya “masih pagi kok udah dibangunin” pikirnya sambil mencari cari handphonenya “moshi moshi watashiwa..” “em benarkah ini nomernya Jurina?” kata kata tersebut dapat membuat Jurina membuka matanya “ya benar, anda siapa ya?” “hei masa sudah lupa” Jurina mulai bermain dengan memorinya “oh… kau Manatsu kan?” “wah ternyata loading otakmu memang lambat ya!” BRUK! Jurina ingin segera meninju sang lawan bicaranya “oh ya bagaimana dengan tugasku yang sedang kau perbaiki? Sudah selesai kah?” “ya sudah… tapi aku tak menjamin hasilnya bagus, kau tau kan nilaiku akhir – akhir ini agak jeblok”  “ya sudah kau antarkan saja tugasku itu ke rumahku” “rumahmu? Bahkan aku tak tau dimana rumahmu”  “ya akan ku sms, ingat! Bawa tugas itu” “ya ya” TUT TUT TUUUT.  “huwaahem…” Jurina berusaha untuk menahan kantuknya “fokus fokus…” Jurina tau bahaya mengendarai sepeda diwatu masih mengantuk, tapi inilah hasilnya.  “HUWAAA!! AWAS!” teriaknya “JURINA!!!” BRUUK! Akhirnya mereka bertabrakan. “oi Jurina kenapa kau ini?” kata Akane yang sedang berusaha berdiri “ah gomen gomen Akane chan” kata Jurina “jangan mengendarai sepeda kalau masih ngantuk, ngomong ngomong kau mau kemana dengan sepeda dan tanaman itu?” Tanya Akane “oh ini, aku mau pergi ke rumahnya Manatsu mengganti tugasnya yang kutabrak kemarin pagi” jawabnya “yakin sekarang kau bisa mengendarai sepeda dengan baik?” Tanya Akane dia sendiri sangat mengkhuwatirkan tabrakan yang akan terjadi nanti. “ah tenang saja Akane chan aku pasti bisa bersepeda dengan baik nih lihat mataku udah terbuka lebarkan?” “ya ya hati hati saja, oh iya nanti ada latihan jangan sampai terlambat seperti kemarin ya!” “ya ya,, sayonara!” “sayonara!”. “sumimasen konichi wa!” “konichi wa, eh ada keperluan apa ya?” Tanya seorang anak laki laki berumur 11 tahun “bisakah saya bertemu dengan Watanabe Manatsu?” “oh… ONIIISANNN!!!! ADA SEORANG GADIS INGIN BERTEMU DENGANMU!!!!” teriaknya “oh suruh saja dia masuk Rei!” “nah kakak bisa bertemu dengannya di halaman belakang. ‘halaman belakang?’ Jurina lalu dituntun oleh adiknya Manatsu yaitu Rei ‘wah bagus sekali..’ pikirnya ketika berada di halaman belakang rumah tersebut “konichi wa jurina, nah apa kau membawa barangnya?” kata Manatsu yang membuat lamunannya akan taman yang indah ini buyar “oh iya iya aku bawa kok” kata Jurina sambil memberikan barangnya. “nah jadi em… kau yang merawat semua tanaman ini?” Tanya Jurina “oh tentu saja aku suka berkebun” jawab Manatsu. “boleh aku bantu?” “oh tentu saja selama kau tidak merusaknya”. Jurina mencabut rumput liar, sedangkan Manatsu sedang menyiram tanaman yang lain. “hei!” Jurina meraba raba rambutnya yang basah “ah gomen ne Jurchan” kata Manatsu “eh jangan panggil aku dengan sebutan itu!” kata Jurina sambil melempari manatsu dengan rumput rumput yang tadi dia cabuti. “hei hentikan” mereka berdua tertawa sambil melempar rumput, tanah dan air. “ah sudah jam 3 siang” katanya sambil melihat ke jam tangannya “aku pulang dulu ya sayonara Natsu!” “oh sayonara!”. ‘wah gimana nih?’ pikir Jurina ketika sudah melihat jam yang ada di dinding. “oi Jurina!” panggil Akane “oh Akane chan” kata Jurina sambil ngos ngosan “tak biasanya kamu ngos ngossan kayak gini” timpal Anna “iya nih aku sedikit lelah” “pasti kau sedang membantu Natsu untuk merawat kebunnya?” tebak Yuka “ah darimana kau tau?” “ya jelas, kau kan baru pertama kali kesana, pasti kau terpukau dengan kebunnya dan yang ngerawatnya ya..?” goda Yuka “hei! Aku bukannya suka dengannya” elak Jurina “ah sudahlah, hari ini kita akan latihan bersama tim kenkyusei, lagu terbaru yang akan kita nyanyikan hari ini dank au centernya” kata Kanako.
“jadi kau sudah mengerti?” Tanya Manatsu keada Jurina, dan yang mendengarkan cuman manggut manggut. “aku mau keluar membeli sebotol yogurt” kata Manatsu ‘jadi dia sangat menyukai Yogurt ya? Hm… seperti Anna” pikir Jurina sambil merapikan buku buku yang berantakan. “eh?” sebuah bunga kering jatuh dari dalam salah satu buku. “bunga cosmos?” Jurina memperhatikan sejenak bunga tersebut. “bunga yang bagus” katanya “ya memang bagus itu sebabnya aku mengeringkannya dan menjadikannya sebagai pembatas halaman” sahut Manatsu sambil menyodorkan sebuah cola didepan Jurina “apa uniknya?” “uniknya dia itu bisa tumbuh dimana aja, di daerah tropis juga bisa” jawab Manatsu sambil memakan yogurtnya. “kau anak laki laki tapi suka dengan tanaman” kata Jurina sambil terus memperhatikan bunga kering tersebut. “setiap orang mempunyai ciri khasnya masing masing” kata Manatsu sambil tersenyum. “oh gitu ya…” Jurina menatap wajah Manatsu, rambut yang sedikit berantakan, suka mengomel jika tugasnya dirusak, sangat santai, suka merawat tanaman dan… sedikit tampan? Ugh! Jurina langsung geleng geleng ketika ia memikirkan kesimpulan yang terakhir. “um… Jurina ada apa?” Tanya Manatsu “ah tidak ada apa apa” jawab Jurina. “nah ini buku tentang anatomi aku meminjamnya dari perpus, kau mungkin membutuhkannya” kata Manatsu sambil menyodorkan buku yang ia maksud. “ah arigatou”. Manatsu memasukkan buku bukunya ke dalam tasnya  “sayonara Jurchan!” “sayonara!”  BYENG! Tunggu dulu dia memanggilnya dengan sebutan Jurchan? Kenapa dia tak marah? Pikiranya sedikit melayang “ah sudahlah lagi pula hari ini aku ada latihan” dia lalu pergi ke aula. “watanabe Manatsu nama yang lucu” gumam Jurina “natsu, natsu, natsu” “Jurina ada apa denganmu?” Tanya Anna “oh tidak ada apa apa” “kenapa kau terus menggumamkan musim panas? Bukannya lagi em… 2 minggu lagi?”  “musim panas, natsu dan summer?” KRAK! Tiba tiba saja seperti ada yang membuatnya sakit ya musim panas membuatnya sakit. “em Jurina… ayo kita latihan” kata Anna “oh ya baik”. “nah minna lusa usahakan kalian menampilkan yang terbaik!” “hai!”.
“hah kau ini!” gerutu Jurina sambil berusaha untuk menjaga barang bawaannya ini tak jatuh “tolong bawa saja bunga bunga ini” kata Manatsu “iya tapi kok kamu bawanya banyak,,, hei ini kan bunga cosmos” “iya, bagus kan?” “benar bagus, jadi kau yang bertugas untuk mendekor ya?” Tanya Jurina “ah tentu saja” mereka meletakkan potnya. “ah aku berkeringat” kata Jurina “ada apa senpai?” Tanya Riko “oh Riko konichiwa” “konichiwa senpai, hari ini cukup panas kurasa musim panas sudah sangat dekat suhunya mulai memanas” kata Riko “benar” kata Jurina sambilmembuka lokernya, tiba tiba ada sebuah surat jatuh dan sekuntum bunga cosmos “wah senpai ! surat dari penggemar!” ‘kuharap kau menjadi seperti bunga ini, dimanapun kau tumbuh kau akan tetap mekar dengan indahnya, Manatsu’ “ah Manatsu” kata Jurina sambil memasukkan kembali barang tersebut. “Manatsu? Apa dia Watanabe Manatsu?” Tanya Riko “oh jadi kau tau dia, dia itu guru privatku untuk ya satu minggu dan kemarin hari terakhirnya mengajarku” kata Jurina “dia itu tetanggaku tapi, nanti dia akan pindah rumah” DEG jantungnya berhenti berdetak “oh gitu..”.
“nah Jurina kau harus tunjukan hasil belajarmu ya!” kata Manatsu “ iya aku akan memberikan hasil yang terbaik” kata Jurina, sekarang mereka ada di rumah lamanya Manatsu. Jurina dan para tetangga Manatsu memberikan ucapan selamat tinggal. “sayonara minna!”, Jurina berjalan pulang sambil menggandeng sepedanya “kenapa kau sedikit murung?” Tanya Akane yang berjalan disampingnya “ah aku tak apa…” “benar?” “….” “jika kau menyukainya ayo lakukanlah apa yang bisa kau  lakukan!” kata Akane sambil memegang bahu Jurina “… baik!” Jurina langsung membalikkan badannya sambil mengendarai sepedanya secepat yang ia bisa ‘aku dengar kau akan pindah rumah? Aku ingin mengatakan kepadamu sesuatu sebelum kau pergi’ Jurina tetap melajukan sepedanya dalam kecepatan tinggi walau sedang menuruni bukit. Air matanya mulai menetes, ‘aku ingin mengatakan sesuatu padamu sebelum mentari terbenam. Lampu merah membuat truk yang membawa barang barang tersebut berhenti. ‘jurina?’ Manatsu melihat ke luar Jurina berhenti tepat di samping truk, ia dapat melihat wajah Manatsu yang basah. “Manatsu ga suki kara!!” “aku menyukaimu Jurina Zutto !” mereka berdua lalu melambaikan tangan ketika lampu hijau menyala dan membuat truk tersebut melaju kembali.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

lirik lagu Blessing + terjemahan

pada awalnya aku sedikit bingung karna ada 13 bahasa maaf kalau ada yang salah. ini pakek google transelet nah langsung to the point, ini dia  lirik Blessing ~World Edition~ Lyrics: Blessings for your birthday Blessings for your everyday Saigo no ichi-byō made mae o muke Muitos rótulos vai receber e mesmo se tentar mudar O valor que vão dar a você ocupará esse lugar "Nascondi tutto ciò che sai in te, anche quello che non pensi mai" Quelle parole un tempo feci mie, e cercai di non lasciarle più Oh… It’s time to get up deungbul-eul kkeobeoligi jeon-e neo Oh… It’s time to get up balmit-eul han beon bichwobwa Kung susubukan mo lang na pagmasdang mabuti Saikō no mikata ga utsutterudesho? Det är det som visar att livet finns där Blessings for your birthday Blessings for your everyday Aunque el mundo se pueda acabar, disfrútalo Blessings for your birthday Blessings for your everyday Zhídào zuìhòu de yī miǎo wǒ yě huì táitóu xiàn...

Tentang Novel : Garis Waku by Fiersa Besari

  Judul : Garis Waktu Penulis : Fiersa Besari Penerbit : Media Kita Tahun terbit : 2016 Blurb : Pada sebuah garis waktu yng merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang uang mengubah hidupmu untuk selamanya. Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan. Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada tiitik - titik kenangan tertentu. Maka, iklaskan saja kalau begitu. Karena sesungguhny, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan. POV : Sudut pandang orang pertama Alur : Alur cerita maju Tema: sesuai dengan apa yang ada pada blurb, kita pasti bisa menebak bahwa cerita ini tentang cinta atau romansa, yang mungkin tidak bisa dibilang begitu manis. Konflik : Konfliknya tidak banyak melebar, fokus pada satu konflik yaitu hubungan antara 'aku' dan 'kamu' Keterangan dari penulis (yang berusaha u...

Sasame yuki terjemahan

 Terjemahan lagu Sasame Yuki Cahaya hujan salju ... Jika tidak ada yang akan bekerja untuk saya Lalu aku akan memegang tangan Anda erat Tidak ada yang bisa dilakukan jika saya menangis Mungkin Anda akan mengatakan sesuatu tentang hal itu Aku pura-pura menjadi sangat patuh Berbalik ke arah sudut jalan Jika air mataku terlihat, maka saya akan kehilangan Merenungkan diam-diam sendiri Anda pasti Akan mengejar saya Akan menelepon saya nama saya juga Tanpa melihat ke belakang, saya tunggu Tapi Anda membiarkan saya meninggalkan Cahaya hujan salju Robekan kesedihan menjadi potongan-potongan Angin bertiup utara Biarkan anak-anak menjadi lebih kuat dengan kesederhanaan Biarkan semuanya mencair di sini dengan Menyesali Karena kenangan selalu Jadi, begitu indah Sampai wajah dan rambut saya basah Dan aku lupa tentang menjadi dingin Salju Light Menyesali Sepertinya itu akan berhenti, tetapi tidak berhenti Seperti hujan yang hanya hujan setengah Cinta yang buruk yang membuat orang menyerah S...