niji no ressha
by ni wayan shanti savitri
''nani?'' Kumi menghela nafas panjang, ''watashi-"
perkataannya terpotong oleh sebuah suara ''Yagami san!'' duo Matsui langsung
berlari kearahnya ''itu tidak mungkin kan?'' Jurina dengan nafas masih
tersengal sengal bertanya kepada Kumi ''ya benar'' DEG
keheningan menyelimuti kelas mereka sebentar. ''Yagami san
Dame!'' tangis Jurina sambil memeluk sahabatnya. ''nee.. Jangan menangis'' kata
Kumi ''Kumi beneran mau lulus?'' tanya Yuria ''ya benar, aku akan melanjutkan
kuliahku di Tokyo'' jawab Kumi
''selamat ya Kumi chan kamu dapat beasiswa'' kata Rena
''nanti jangan sampai mengecewakan'' ''hai''.
Kumi berjalan melewati sebuah kelas, dia tak menyadari
seorang cowok mengikutinya, keluar dari kelasnya.
''ne ohayou Yagami''
Mendengar namanya di katakan Kumi berbalik. ''Watanabe
san?'' cowok tersebut lalu nyengir ''hei jangan memanggilku dengan sebutan
Watanabe salah salah saudara kembarku yang datang'' ''Gomen, ada apa? Tumben
kau memanggilku dengan nama belakangku dan ada apa dengan pipimu itu?''
Watanabe Tatsuya cuman bisa senyum senyum sambil garuk garuk kepalanya yang
tidak gatal. ''baru putus dengan Mukaida san'' ''putus? Wah wah sepertinya
playboy sekolah kita ini mulai meningkat prestasinya'' kata Kumi ''kita ke
perpustakaan yuk! Aku mau bicara sesuatu'' Kumi mengikuti langkah kaki temannya
itu. Penasaran dengan hal yang selanjutnya akan dikatakan oleh teman cowoknya
itu. Dia Yagami Kumi berteman dengan Watanabe Tetsuya sejak masuk ke SMA ini.
Dahulu waktu kelas X mereka sekelas namun kelas kembali dirombak setahun lalu
membuat mereka berbeda kelas. Tapi itu bukan penghalang mereka untuk tetap
berteman sampai sekarang. Kumi berharap agar mimpinya menjadi kenyataan. Mimpi
seorang gadis polos tentang cinta. Namun pemikiran dan harapan itu langsung
pupus saat dia ingat kebiasaan Tatsuya, disaat saat dia sudah putus dari
pacarnya. ''kayaknya Matsui san itu manis ya?'' itulah kata yang terucap dari
mulut Tatsuya. Bisa ditebak hari ini dia mungkin akan mengincar salah satu
cewek yang bermarga Matsui di kelasnya. Tapi apa salahnya dia berharap?
Walaupun harapannya selalu pupus.
''matsui yang mana nih? Yang pintar dance atau yang suaranya
bagus''
''kalau kamu tanya ya yang suaranya bagus donk''
''kebiasaanmu itu, kemarin Haruna san lalu Asuka san lalu
yang terakhir ini teman sekelasmu Mukaida san. Yah walaupun dia juga teman
mainku tapi tak segitunya juga. Engkau selalu mencari sasaran yang merupakan
cewek terpopuler, mempunyai suara yang bagus dan teman dekatku, dan sekarang
kau naksir sama Rena chan?'' ''yah
begitu'' Tatsuya menengadah ke langit langit perpustakaan. Dia memang sering
menjadikan perpustakaan sebagai tempat mendiskusikan sesuatu, terutama cewek.
Keuntungan berdiskusi disini yaitu sepinya pengunjung dan yang kedua dia bisa
melihat seseorang dari balik kaca jendela. Entah siapa itu, ''kamu mau aku
ceritain semua tentang Rena chan?'' ''iie, aku sudah tau'' ''tumben biasanya
kamu, memanfaatkan aku buat cari informasi dan melancarkan dinnermu bersama
mereka'' ada nada menyindir di kalimat Kumi yang membuat Tatsuya menatapnya
tajam, mengalihkan pemandangan yang ada di kaca jendela ''aku kan hanya meminta
bantuanmu bukannya memanfaatkanmu'' kata Tatsuya ''ya gomen''. Tatsuya kembali
melihat ke arah kaca yang bening tersebut. Kumi juga ikutan melihat pemandangan
dibalik kaca jendela, dadanya yang sakit harus ditahannya lebih lama. Rasa
cemburu yang selalu terkoar koar ketika Tatsuya selalu membicarakan cewek lain
dihadapannya dan membanding bandingkan dirinya dengan mereka. ''Rena chan
cantik, aku suka kepadanya. Kira kira boneka beruang warna pink cocok tidak
jadi hadiah buatnya?'' ah ya boneka dia juga suka boneka ''benar dan jangan
lupa ada hiasan pitanya, dia suka dengan sesuatu yang ada pitanya juga''
Berfikir sendiri, Kumi menerawang sedikit tentang temannya
Rena, dia sedikit takut kalau keduanya jadian lalu Tatsuya memilih putus dengan
Rena dan membuat cewek itu jadi sedikit Brutal. Dia ingat kejadian waktu musim
panas yang lalu. Kato san dan Rena suka pada orang yang sama, lalu keduanya di
PHP in oleh Takeuchi senpai dan membuat keduanya melampiaskan rasa sakitnya ke
orang lain. Waktu itu Kato san hampir saja membunuh seorang adik kelasnya.
Kalau Rena chan, dia teriak teriak di atas sebuah gedung lalu hampir mencelakai
dirinya dan Akari san. ''seandainya kamu cantik pasti ada yang mau'' kata
Tatsuya ''yah begitulah aku kan memang cewek yang tidak populer'' ''kau punya
berita yang bagus?'' ''iie''
''lama banget liatnya'' Tatsuya langsung gelagapan lalu
menatap kedepan ''pasti ada yang lain selain Rena benar tidak?'' berusaha untuk
tidak menangis dan menunjukkan dukungannya kepada Tatsuya.
''nanti bilangin ke Rena aku menunggunya di belakang sekolah
setelah pulang sekolah'' kata Tatsuya sambil berdiri
''yah sampai disini ya pembicaraan kita? aku akan memberitahunya.
Ja, mata ashita''
Mereka lalu berpisah di koridor sekolah. Ingin rasanya dia
sekarang menangis sejadi jadinya, namun tahan saja dulu. Setidaknya dirinya
dapat membantu dia. ''Rena chan'' ''oh Kumi chan, Doushite?'' ''Watanabe
Tatsuya menyuruhmu untuk pergi ke belakang sekolah pulang sekolah nanti'' ''oh
Tatsuya kembarannya Mayu chan?'' Kumi
mengangguk. ''ya oke lah'' lalu dia melanjutkan ngobrolnya dengan teman teman
sedangkan Kumi harus mengurus kepergiannya dari sekolah, menjadi siswi yang
jenius membuatnya lulus lebih cepat. ''Ta Takahashi san'' Kumi terkejut
sekaligus bingung. ''hai, Doushite?'' ''watashi Yagami Kumi desu'' kata Kumi
sambil menunduk 90 derajat ''ah kau yang namanya Yagami san, baiklah kalau
begitu kau isi lengkapi surat surat ini'' Takahashi san memberikan beberapa
lembar kertas dan Kumi pun mulai menulis. ''wah kelihatannya kita bakalan
kehilangan satu siswi lagi'' kata Takahashi ''tapi aku bangga padamu'' ''se
senpai bangga kepadaku?'' ''tentu saja jarang ada siswi yang dapat beasiswa
secepat ini'' Takahashi membersihkan ruangan tersebut. ''ano Takahashi san...''
''ya aku jadi Ketua OSIS untuk tahun ini'' ''iie bukan itu'' ''lalu?''
''Takahashi san pernah sakit hati tidak?'' Takahashi menghentikan kegiatannya
lalu duduk. ''kurasa pernah'' ''oh gitu ya...'' ''kau pasti lagi sakit hati
kan?'' Kumi mengangguk ''siapa?'' ''Tatsuya kun'' ''Tatsuya... Oh... Aku tau si playboy sekolah itu kan?''
Kumi mengangguk ''Takahashi san bagaimana caranya untuk...'' ''begini sebelum
kepergianmu ungkapin rasamu kedia'' ''tapi bagaimana caranya?'' ''ya kalau kamu
tidak bisa ngomong kasih saja dia surat'' ''tegami?'' Takahashi mengangguk.
''KEMI!!!'' (ketua mini) teriak salah satu siswi sambil masuk seenaknya kedalam
ruangan OSIS. ''Yuuko san diamlah!'' kata Takahashi sambil memukul kepala
temannya itu ''sakit'' keluhnya.
Kumi berjalan jalan di salah satu Departement store yang ada
di daerahnya, membeli perlengkapan yang dia butuhkan. Tanpa sadar matanya
menangkap pemandangan itu. Disana Rena dan Tatsuya sedang asik memilih boneka
sesekali tawa menghiasi wajah mereka. Bodoh Bodoh seharusnya kau jangan
berharap banyak Kumi! Batinnya, tanpa sadar sesuatu yang cair turun dari
kelopak matanya.
''Tatsuya datanglah ke stasiun jam 3 siang aku menunggumu''
itulah pesan yang ia dapat ketika dia sibuk membungkus bento untuk adiknya.
''Onisan! ini buat siapa?'' tanya Hikari ''untuk seseorang'' jawab kakaknya
''huh kirain buat aku'' Hikari lalu kembali menonton TV, terkadang dia
mendengar tawa adiknya. Tatsuya lalu melihat acara yang ditonton oleh adiknya.
''kamu suka dengan film itu ya?'' ''iya kak! Suatu hari nanti aku pasti bisa
menjadi yang terbaik di sekolah dan mengalahkana Mamoru'' Mamoru itu peraih
rangking 1 di sekolahnya Hikari. ''nisan apakah suatu hari nanti aku bakalan
diajak naik kereta pelangi?'' sungguh kepolosan seorang anak kecil ketika
menginginkan hal yang ada di dalam sebuah kartun. ''hm... Mungkin''.
Acara kelulusan di musim semi itu adalah hal yang
membosankan bagi Tatsuya, sambil menendang kaleng dia keluar dari gedung aula
sekolah mengacuhkan kegiatan yang ada di dalamnya. Bocah yang baru lulus dari
sekolah dasar tersebut lalu melempar botol air yang dibawanya. dan mengenai
tembok di sisi timur.
Beberapa saat
kemudian terdengar suara tangisan dari sana. Dia lalu berlari kesana dan
menemukan seorang gadis yang menangis ''lukisan bunga sakuraku hiks'' ''gomen
ne nasai!'' kata Tatsuya ''aku yang melempar botol tersebut gomen!'' gadis itu
berhenti menangis melihat penyesalan dari Tatsuya. ''ini'' gadis itu memberikan
Tatsuya sebuah kuas, ''tolong bantu aku melukis kereta pelangi'' Tatsuya
menaikan salah atu alisnya ke atas ''kau harus membantuku melukisnya supaya
kereta tersebut akan datang dan membawaku ke impianku!''
Kumi menghela nafasnya ketika melihat jam tangannya, stasiun
hari ini sangat berangin hampir saja topinya terbang ditiup angin. Stasiun yang
teramat canggih, kini relnya terletak di atas tanah. Kata Takahashi san aku
harus memberikan ini ke orang yang aku sukai batinnya. Tapi kenapa dia lama
sekali ya? Batinnya lagi.
''Kumi chan!'' ''Tatsuya?'' disana seorang cowok berdiri
sambil terengah engah. ''kamu tidak pernah memberitahuku kalau kamu mau pergi''
''etto...'' ''kenapa kamu nyuruh aku datang kesini juga? Aku kan ada acara
dengan Rena san'' huh dasar Tatsuya batin Kumi. ''aku cuman mau kamu melihat
kepergianku'' ''eh ini serius?'' dilihatnya pelangi yang muncul di balik awan
di arah timur sedangkan sebuah kereta datang dari arah barat
''ini pasti gara gara aku ya? Kamu pergi''
''ini bukan salahmu dan bukan salah siapa siapa, ini cuman
sebentar. Aku cuman pergi sebentar. Nanti ketika aku sudah berhasil kau bisa
memujiku atas hasil kerja kerasku''
''kumi...''
Tatsuya memegang tangan Kumi dengan erat seakan tak akan
membiarkan cewek itu pergi
''doushite?''
''Kumi ga suki kara. Se seharusnya aku mengatakan ini dari
awal tapi aku tak sanggup, bahkan hanya untuk melihat wajahmu aku hanya bisa
melihatnya melalui pantulan kaca jendela''
Tatsuya lalu mengeluarkan sebuah gantungan kunci berbentuk
kereta api dengan pelangi diatasnya. ''kau pernah bilang kalau kau menyukai
kereta pelangi kan? Sebelum pergi aku ingin memberikannya kepadamu''
''ah kau tak mendengar tentang kepergian Kumi?'' Tatsuya
menggeleng ''kenapa dia tak memberitahumu? Ah dasar Kumi'' ''lalu apa sebaiknya
yang aku lakukan?'' ''hadehh... Tatsuya kamu tidak perlu menguji kecemburuannya
terlalu lama'' dasar cowok batinnya, dia itu udah ngasih perhatian ''kalau
begitu bantu aku'' ''bantu apa?'' ''aku ingin memberlikannya hadiah sebelum dia
pergi'' ''nah kalau soal itu kau datang ke orang yang sangat tepat aku akan
membantumu mencarikan hadiah yang bagus''
Kumi melepas tangannya dari genggaman tangan Tatsuya
''Kumi''
''arigatou, atas semuanya''
Kumi memegang erat gantungan kunci tersebut. Dia lalu
memandang ke belakang.
''bagaimana jika keretanya sudah berangkat? Ketika kita
sudah bertemu?''
Wajahnya kini basah oleh air mata
''aku pernah berfikir akankah kamu menghentikanku dan
berkata jangan pergi? Dan meninggalkan perasaan cinta ini?''
Kumi lalu berlari ke arah pintu masuk kereta ''anata ga suki
deshita, Saigo ni iitakute!''
Pintu kereta pun tertutup
''Kumi chan Sayonara!''
Kumi pun menangis, Tatsuya hanya melihat kepergian Kumi.
''kereta pelangi''


Komentar
Posting Komentar