Skirt Hirari
by ni wayan shanti savitri
Hari ini beberapa murid
dari kelas A mulai meributkan soal nasib sekolah mereka yang tak kunjung
terkenal, malah beberapa orang orang menganggap sekolah mereka itu sangan
jelek, Majisuka Gakuen siapa yang sangka? Mereka hanya ber 20 orang, untuk
siswa generasi pertama itulah yang terjadi. “Aku bahkan diejek oleh beberapa
orang ketika pulang dari sekolah” kata Michan “tak apa juga kita murid baru
kan? Kita akan berusaha untuk menjadi yang terbaik” kata Risa sambil melihat ke
luar jendela, ‘sepertinya akan ada angin deh’ batinnya. Pintu kelas terbuka
“Ohayou Minna” sapa Sang Guru “Ohayou…” ke dua puluh empat murid tersebut
member hormat kepada guru yang selama 3 minggu ini mengajari mereka. “nah
sekarang kita kedatangan murid baru” kata Sensei, “murid baru?” “yakin kok dia
bisa masuk kesini?” “apakah dia mempunyai rambut yang panjang?” “dia seperti
apa ya kira kira?” semua murid bisik bisik. “nah Mariko sama silahkan masuk”
yang dipanggil lalu masuk ke dalam kelas. “eh? Bukkannya dia itu anak yang
bekerja di kafe depan sekolah?” kata Takamina “iya benar” timpal yang ada disampingnya Rina. “watashi
Shinoda Mariko yoroshiku…” katanya sambil sedikit membungkukkan badan. “nah
Shinoda-san duduklah di sebelah sana” kata Sensei, Mariko pun berjalan ke
tempat duduknya dan duduk disana. “KYA!!!!” semua orang menoleh, “nani
Haruna-san?” Tanya Atsuko yang duduk disebelahnya “menteganya meleleh di
nasiku!” kata Kojiharu sambil menjauhi kotak makannya tersebut. “oh ternyata
seperti itu…” kata Risa sambil sedikit terkikik mereka sekarang sedanga ada di
kantin. “kau tak suka dengan makanan yang berminyak ya?” Tanya Kazumi “bukan
seperti itu Kazumi-san!” kata Kojiharu sambil menggeleng. “Ohayou minna!” kata
Nozomi, dibelakangnya ada seorang yang tinggi dan berambut pendek, kalau bukan
si murid baru siapa lagi? “oh Nozomi-chan” kata Takamina ketika mengenali orang
yang sedang menyapa mereka. “oha yo you…” kata Mariko sedikit terbata bata,
“kami boleh duduk disini nggak?” Tanya Nozomi “tentu saja” kata Risa sambil
menggeser tempat duduknya. “sepertinya aku pernah mengenalimu” kata Rina sambil
mefokuskan matanya ke wajah Mariko, yang dilihat cuman malu. “dia kan bekerja
part tie di kafe depan sekolah” kata Kojiharu yang akhirnya memakan nasinya
itu. “bukan bukan kau pernah ikut tes deh kemarin” kata Risa “tes? Tes apa?”
tanya Takamina “buat masuk ke sekolah ini!” kata Rina “eh etto..” Mariko
mengaruk garuk pipi bagian bawahnya yang tida gatal. “kau kan ikut tes , aku
satu ruangan denganmu waktu itu” kata Tomomi yang tiba tiba saja ada di samping
Kojiharu dengan sebuah roti ditangannya. “KYA!!! Tomochin! Kau mengagetkanku!”
kata Kojiharu sambil berusaha untuk menahan nasinya di mulut agar tak keluar.
“kau ikut tes?” “ah iya dan aku tak lulus” “truss bagaimana kau bisa masuk ke
sekolah ini?” Tanya Takamina “dia memiliki keunikan tersendiri sehingga aku
memasukkannya ke sekolah ini, sama sepertimu Takamina-san” kata Akimoto Sensei
yang lewat di depan mereka denagn membawa seekor kucing di pangkuannya. “Sensei
sensei!” mereka semua menunduk member
hormat “kalian haru berjuang mimpi kalian belum sampai” kata Sensei Akimoto
lalu pergi. “ah….” Merekasemua mendesah.
Mereka
kembali ke kelas setelah bel tanda dimulainya belajar berbunyi, “kayano-chan
apakah kau bisa membantuku?” Tanya Atsuko sambil melepaskan kacamatanya “nani
Achan?” “em… begini tentang ramalanmu yang kemarin” “oh ramalan” semua orang
yang ada di kelas langsung mendekati mereka berdua ketika mendengar kata
‘ramalan’ kecuali Mariko yang sibuk dengan earphone dan bukunya. Masuyama
Kanayo atau biasa di panggil Kayano-chan atau kanachan adalah salah satu murid
yang suka meramal. “tentang angin yang akan sangat kencang?” Tanyanya, Atsuko
mengangguk yang diikuti oleh murid murid yang lain setelah Atsuko. “lebih baik
kita membeli rok yang lebih panjang” kata Hana sambil melihat ke roknya yang
diatas lutut tersebut “mungkin rok yang sedikit lebih panjang dari lutut?” usul
Risa “ya itu ide bagus, tapi…” semuanya melihat kea rah Takamina yang
kelihatannya berfikir sangat serius. “yang kutau rok persediaan sekolah kita
sedang… maksudku belum ada stoknya” kata takamina yang ditangapi dengan sedikit
eluhan dari teman teman sekelasnya
“bagaimana denganmu Mai?” Tanya Hana “em… mungkin Roknya belum jadi, bagaimana
kalau kita saja yang menjahitnya?” Tanya Mai “Oshima-san diantara kita siapa
yang bisa menjahit rok?” Tanya Kazumi “hem… aku bisa” kata Tomomi “aku juga!”
kata Kojiharu “baiklah ! nanti kita akan beroperasi sepulang sekolah!” kata
Takamina “Hai!”. Sepulang sekolah beberapa murid pergi ke gudang sekolah dan
beberapa murid pergi ke toko alat jahit untuk membeli peralatan jahit, dan
seorang murid lainnya pergi ke rumahnya untuk mengambil mesin jahit. “wah
semuanya udah dikumpulkan?” Tanya Takamina “sudah!” jawab semua murid “baiklah
ayo bekerja!” mereka pun mulai bekerja
membuat Rok dan seragam baru khusus untuk musim yang berangin nanti. Mulai dari
mengambil ukuran badan setiap murid, desain seragam, ukuran panjang setiap Rok karna
rencananya rok untuk seragam ini harus lebih panjang. Jam telah menunjukkan
pukul 6 sore. “janee!!!” beberapa murid pulang ke rumahnya masing masing karna
hari semakin malam. “kojiharu-san, tomochin kalian harus istirahat dulu” kata
Rina sambil menyodorkan 2 buah teh hangat untuk temannya yang sedang bekerja
keras ini. “ah nanti saja” kata Kojiharu sambil terus melipat beberapa bagian
kain. “benar sebaiknya kalian yang istirahat dulu” kata Tomomi. Sekarang mereka
bertujuh di sekolah, mereka sudah meminta izin untuk sekolah lebih lama. “aku akan
membeli beberapa camilan” kata Atsuko sambil pergi keluar sekolah “eh tunggu!
Kau tak boleh pergi sendirian!” teriak Takamina sambil mengikuti Atsuko. “Kemana mereka?” Tanya Risa sambil
meletakkan beberapa seragam yang selesai dijahit di sebuah lemari. “entahlah
katanya mereka kan membeli cemilan” kata Mai sambil mencuci beberapa pakaian,
(tentu saja sebelum digunakan pakaian itu harus dicuci) “Achan tunggu!” teriak
Takamina sambil berlari “oh Takahashi-san” kata Atsuko sambil menghentikkan
langkahnya. “ah Atsuko-chan aku lelah mengejarmu, seharusnya kau tak pergi
sendirian apalagi sekarang mau malam.” Kata Takamina sambil mengatur nafasnya.
Angin bertiup sedikit lebih kencang sehingga kedua gadis itu melindungi matanya
dan wajahnya, beberapa dedaunan berterbangan, seragam mereka bergoyang ditiup
sang angin. Rok mereka terus bergoyang mengikuti arah angin yang datang. “aku
membawa jaket tangkap!” kata Takamina sambil melempar sebuah jaket kearah
Atsuko “ah arigatou” kata Atsuko sambil memakai jaket tersebut. Mereka naik
sebuah bus untuk pergi ke supermarket terdekat, karena beberapa minimarket di
dekat sekolah mereka sudah pada tutup. “eh takamina kita akan membeli apa
saja?” Tanya Atsuko “eh bukkanya kamu yang memperkarsai kita berada di tempat
ini!” kata Takamina sambil menjitak kepala Atsuko. “ah gomen…” kata Atsuko
sambil mengelus elus kepalanya yang sakit. “Kya!! BUsnya!” Takamina berteriak
karna bus yang akan mereka tumpangi sudah melaju. “kita harus mengejarnya atau
kita harus berjalan 5 kilometer sebelum terlambat!” kata Takamina sambil
berlari dan diikuti oleh Atsuko mereka berlari di cuaca yang sedikit tak
bersahabat, angin bertiup sedikit kencang sehingga laju lari mereka agak
terhambat. “HWA!!” jaket milik Atsuko terbang ditiup angin, dia berhenti
sejenak untuk menyeimbangkan badannya. “Takamina-san!” Takamina sudah tak kuat
lagi mengejar bus tersebut. “bagaiaman sekarang?” Tanya Takamina ketika Atsuko
sudah ada di dekatnya, Atsuko menggeleng. TIIT! TIT! TIT! TIT! Sebuah bunyi
klakson mobil, “Sensei!” kata mereka bersamaan “oh apakah jaket ini milikmu
Maeda-san?” Tanya Sensei Akimoto “ah Arigatou Sensei” kata Atsuko ketika jaket
tersebut sudah ada di tangannya. “aku akan mengantar kalian ke sekolah” kata
Sensei Akimoto “Arogatou Sensei!”.
“kya!!
Mesin pengering pakaiannya rusak!” kata Rina semuanya menoleh kearah sumber
suara. “besok kita jemur bagimana?” Tanya Tomomi sambil merapikan ikatan
Rambutnya yang rusak, seorang dengan poni yang
rata dengan alis matanya dan rambut pendek yang kuncir dua, membuatnya
semakin cute saja. “kita bisa menginap disini, di UKS tepatnya” kata Takamina
“Hai!”. Jam telah menunjukkan pukul 8
pagi, namun matahari sudah ada diatas. Mereka pergi keatap sekolah untuk
menjemur seragam yang telah mereka buat dengan susah payah. Hari ini hari minggu
jadi mereka dapat membersihkan diri. Jam telah menunjukkan pukul 1 siang,
mereka kembali ke atas atap untuk mengambil seragam yang telah jadi, beberapa
siswa juga ada yang datang untuk membantu mereka. Tiba tiba angin bertiup
dengan kencang sehingga menerbangkan beberapa seragam. “HWA!!!” mereka segera
mengambil seragam itu, angin bertiup terus membuat mereka kewalahan. Rambut
mereka berkibar ditiup angin, seragam mereka seperti ditariki tarik.
“kojiharu-san!” panggil Tomochin “KYA!!” “bertahanlah Tomochin” ya Tomochin
sekarang ada di bibir atap sekolah dengan kedua tangannya yang berpegangan di
bibir atap sambil memegang rok baru miliknya, Kojiharu segera membantu Tomochin.
“arogatou Kojiharu-san”. “Takamina! Sekarang bagaimana?” Tanya Atsuko “entahlah
selamatkan saja seragam yang bisa kau selamatkan!” kata Takamina sambil menahan
tiupan angin yang kencang “bawa ini Atsuko-chan” kata Takamina sambil
memberikan beberapa seragam yang tadi dia bawa. “Atsuko masuk ke dalam gedung
sekolah dan segera menyimpan semua seragam itu lalu kembali ke atas atap
sekolah untuk membantu yang lain. “Takamina-san!!” teriak beberapa siswi ketika
melihat apa yang dilakukan Takamina. Takamina berusaha untuk mengambil sebuah
Rok yang tersangkut di tiang tinggi di tepi atap, rok tersebut terus berkibar
seperti bendera karna ditiup angin yang kencang dan Takamina berusaha untuk
mengambilnya, tingginya hanya 148 cm namun usahanya tak akan pupus. Takamina
hampir meraihnya sebelum rok tersebut terbawa angin dan dirinya jatuh dari
atap “KYA!!” Takamina lalu ditangkap
oleh Mariko. “menunduk semuanya!” kata Mai sambil melempar kail pancingan ke arah
rok tersebut dan berhasil mengail rok tersebut “tak sia sia kemampuan
memancingmu” kata Hana sambil menepuk pundak Mai “Mai mai gitu” kata Mai sambil
tersenyum sambil memutar
pancingannya agar Rok tersebut dakam jangkauan untuk diambil. Atsuko lalu
mengambil rok tersebut.”Yei!” akhirnya perjuangan mereka untuk mengambil
seragam yang berterbangan itu berhasil. Mereka sekarang berdiri di atas atap
sekolah dengan seragam khusus musim berangin mereka. “Minna! Ayo kita menari
dan menyanyi!” kata Takamina sambil menaikkan tangannya “yosh!!”
.jpg)
Komentar
Posting Komentar