Agustus 1968
by ni wayan shanti savitri
Aku memandang langit biru, dan menyeka keringat yang
membasahi diriku. “ayo semangat semangat!” kataku dalam hati sambil terus
melangkahkan kaki.
“Vio!” teriak Yesi, kami bertiga menatap ke belakang dan menghampiri Vio yang pingsan.
“mungkin dia nggak kuat jalan nggak?” kata Joni sambil menggendong Vio
“maaf karena aku lemah” kata Vio ketika ia digendong oleh Joni
“nggak usah sungkan begitu, emang jalannya yang cukup panjang” kata Joni “
Van menurutmu gimana ya keadaan sekolah?” tanyaku
“hm… kurasa makin bagus apalagi sekarang musim panas” katanya
“bakalan ada banyak bintang di langit” katanya sambil tersenyum dan menatapku
“tenang aja aku udah bawa peralatan tulis lebih kok!” katanya sambil membuka isi tasnya
“he he lihat” katanya sambil menunjukan alat tulisnya
“uwah dari mana kamu dapat yang seperti itu?” Tanya Yesi sambil muncul diantara kami
“yah butuh usaha keras untuk mendapatkannya, kau tau aku memungutnya dari sampah tahun lalu…” kata Evan sambil setengah berbisik.
“hah dasar bilang saja kau mengambilnya dari dapur ibumu” kata Yesi dengan nada mengejek.
“heh kau tau aku mendapatkannya dengan susah payah!” kata Evan.
“sudah-sudah tuh kita udah sampai!” kataku sambil menunjuk ke sebuah pohon dimana ada banyak sekali anak-anak yang berkumpul. Kami pun setengah berlari ke sana, tentu saja Joni tidak dapat berlari karena ia mengendong Vio yang kelelahan.
“hai maaf menunggu lama” kata Yesi
“ya nggak apa apa” kata Epik sambil membuka tas karungnya
“hari ini aku dapat arang gratis dari rumah tetangga…” katanya sambil memperlihatkan benda tersebut di depan teman-temannya.
“wah bagus sekali kamu mau buat apa dengan itu?” Tanya Yesi. Epik menarik tangan Yesi, aku mengikuti mereka dari belakang.
“ini dia!” katanya sambil menujuk ke sebuah batu besar yang habis ia corat coret dengan arang.
“waw! Lukisannya baggus sekali!” kata Yesi sambil memandangi lukisan naga besar itu.
“nah ini yang namanya Seni” kata Epik.
“Vio!” teriak Yesi, kami bertiga menatap ke belakang dan menghampiri Vio yang pingsan.
“mungkin dia nggak kuat jalan nggak?” kata Joni sambil menggendong Vio
“maaf karena aku lemah” kata Vio ketika ia digendong oleh Joni
“nggak usah sungkan begitu, emang jalannya yang cukup panjang” kata Joni “
Van menurutmu gimana ya keadaan sekolah?” tanyaku
“hm… kurasa makin bagus apalagi sekarang musim panas” katanya
“bakalan ada banyak bintang di langit” katanya sambil tersenyum dan menatapku
“tenang aja aku udah bawa peralatan tulis lebih kok!” katanya sambil membuka isi tasnya
“he he lihat” katanya sambil menunjukan alat tulisnya
“uwah dari mana kamu dapat yang seperti itu?” Tanya Yesi sambil muncul diantara kami
“yah butuh usaha keras untuk mendapatkannya, kau tau aku memungutnya dari sampah tahun lalu…” kata Evan sambil setengah berbisik.
“hah dasar bilang saja kau mengambilnya dari dapur ibumu” kata Yesi dengan nada mengejek.
“heh kau tau aku mendapatkannya dengan susah payah!” kata Evan.
“sudah-sudah tuh kita udah sampai!” kataku sambil menunjuk ke sebuah pohon dimana ada banyak sekali anak-anak yang berkumpul. Kami pun setengah berlari ke sana, tentu saja Joni tidak dapat berlari karena ia mengendong Vio yang kelelahan.
“hai maaf menunggu lama” kata Yesi
“ya nggak apa apa” kata Epik sambil membuka tas karungnya
“hari ini aku dapat arang gratis dari rumah tetangga…” katanya sambil memperlihatkan benda tersebut di depan teman-temannya.
“wah bagus sekali kamu mau buat apa dengan itu?” Tanya Yesi. Epik menarik tangan Yesi, aku mengikuti mereka dari belakang.
“ini dia!” katanya sambil menujuk ke sebuah batu besar yang habis ia corat coret dengan arang.
“waw! Lukisannya baggus sekali!” kata Yesi sambil memandangi lukisan naga besar itu.
“nah ini yang namanya Seni” kata Epik.
Kami adalah anak-anak
biasa, yang sehari-hari menggunakan karung goni sebagai pakaian, kami analah
anak yang menginginkan kebebasan. Kami adalah anak-anak yang suka berkreasi,
namun kekreatifan kami tak akan pernah kami dapatkan jika kami berdiam diri
saja di rumah. Apapun yang dikatakan oleh orang tua kami kami selalu
menurutinya, namun tidak untuk ini. Kami ingin bersekolah seperti orang-orang
itu, namun apa daya. Orang tua kami selalu menolak keinginan kami tersebut.
Kami selalu pergi ke tmepat ini dengan tujuan belajar. Ya alamlah tempat kami
menimba ilmu, alamlah yang mengajarkan kami betapa pentingnya belajar dalam
hidup. Kami selalu belajar di bawah pohon beringin ini, ditemani sebuah batu
yang besar. Kami biasanya saling bertukar pikiran dan melihat bintang di
langit. Kami adalah anak Indonesia yang tak tersentuh oleh pendidikan. Kami
ingin hak kami! Dan kami beruntung karena kami masih mempunyai alam yang indah
tempat kami belajar sekarang. 50 tahun
lagi kami pasti….
“Sha apa yang kamu lakukan?” Tanya Mahardika, Sha celingkan
sambil menyembunyikan bukunya,
|“apa yang kau tulis?” Tanya Ega sambil mengambil buku Sha,
“hei kembalikan!” kata Sha sambil berusaha mengambil bukunya.
“kau nggak habis habisnya membuat Agustus 1964” kata Mahardika
“itu… karena sekarang bulan agustus… dan ini tahun pertamaku belajar disini jadi,,, aku mencoba membuat sesuatu yang dapat aku gunakan untuk…. Mengatakan isi kepalaku tentang pendidikan jaman dahulu” kata Sha.
|“apa yang kau tulis?” Tanya Ega sambil mengambil buku Sha,
“hei kembalikan!” kata Sha sambil berusaha mengambil bukunya.
“kau nggak habis habisnya membuat Agustus 1964” kata Mahardika
“itu… karena sekarang bulan agustus… dan ini tahun pertamaku belajar disini jadi,,, aku mencoba membuat sesuatu yang dapat aku gunakan untuk…. Mengatakan isi kepalaku tentang pendidikan jaman dahulu” kata Sha.

Komentar
Posting Komentar