Langsung ke konten utama

kategori cerpen : Agustus 1964

Agustus 1968

by ni wayan shanti savitri



Aku memandang langit biru, dan menyeka keringat yang membasahi diriku. “ayo semangat semangat!” kataku dalam hati sambil terus melangkahkan kaki.
 “Vio!” teriak Yesi, kami bertiga menatap ke belakang dan menghampiri Vio yang pingsan.
“mungkin dia nggak kuat jalan nggak?” kata Joni sambil menggendong Vio
“maaf karena aku lemah” kata Vio ketika ia digendong oleh Joni
“nggak usah sungkan begitu, emang jalannya yang cukup panjang” kata Joni “
Van menurutmu gimana ya keadaan sekolah?” tanyaku
“hm… kurasa makin bagus apalagi sekarang musim panas” katanya
“bakalan ada banyak bintang di langit” katanya sambil tersenyum dan menatapku
“tenang aja aku udah bawa peralatan  tulis lebih kok!” katanya sambil membuka isi tasnya
“he he lihat” katanya sambil menunjukan alat tulisnya
“uwah dari mana kamu dapat yang seperti itu?” Tanya Yesi sambil muncul diantara kami
“yah butuh usaha keras untuk mendapatkannya, kau tau aku memungutnya dari sampah tahun lalu…” kata Evan sambil setengah berbisik.
 “hah dasar bilang saja kau mengambilnya dari dapur ibumu” kata Yesi  dengan nada mengejek.
 “heh kau tau aku mendapatkannya dengan susah payah!” kata Evan.
“sudah-sudah tuh kita udah sampai!” kataku sambil menunjuk ke sebuah pohon dimana ada banyak sekali anak-anak yang berkumpul. Kami pun setengah berlari ke sana, tentu saja Joni tidak dapat berlari karena ia mengendong Vio yang kelelahan.
“hai maaf menunggu lama” kata Yesi
 “ya nggak apa apa” kata Epik sambil membuka tas karungnya
“hari ini aku dapat arang gratis dari rumah tetangga…” katanya sambil memperlihatkan benda tersebut di depan teman-temannya.
 “wah bagus sekali kamu mau buat apa dengan itu?” Tanya Yesi. Epik menarik tangan Yesi, aku mengikuti mereka dari belakang.
“ini dia!” katanya sambil menujuk ke sebuah batu besar yang habis ia corat coret dengan arang.
“waw! Lukisannya baggus sekali!” kata Yesi sambil memandangi lukisan naga besar itu.
“nah ini yang namanya Seni” kata Epik.
Kami adalah anak-anak biasa, yang sehari-hari menggunakan karung goni sebagai pakaian, kami analah anak yang menginginkan kebebasan. Kami adalah anak-anak yang suka berkreasi, namun kekreatifan kami tak akan pernah kami dapatkan jika kami berdiam diri saja di rumah. Apapun yang dikatakan oleh orang tua kami kami selalu menurutinya, namun tidak untuk ini. Kami ingin bersekolah seperti orang-orang itu, namun apa daya. Orang tua kami selalu menolak keinginan kami tersebut. Kami selalu pergi ke tmepat ini dengan tujuan belajar. Ya alamlah tempat kami menimba ilmu, alamlah yang mengajarkan kami betapa pentingnya belajar dalam hidup. Kami selalu belajar di bawah pohon beringin ini, ditemani sebuah batu yang besar. Kami biasanya saling bertukar pikiran dan melihat bintang di langit. Kami adalah anak Indonesia yang tak tersentuh oleh pendidikan. Kami ingin hak kami! Dan kami beruntung karena kami masih mempunyai alam yang indah tempat kami belajar sekarang.  50 tahun lagi kami pasti….


“Sha apa yang kamu lakukan?” Tanya Mahardika, Sha celingkan sambil menyembunyikan  bukunya,
|“apa yang kau tulis?” Tanya Ega sambil mengambil buku Sha,
“hei kembalikan!” kata Sha sambil berusaha mengambil bukunya.
“kau nggak habis habisnya membuat Agustus 1964” kata Mahardika
“itu… karena sekarang bulan agustus…  dan ini tahun pertamaku belajar disini jadi,,, aku mencoba membuat sesuatu yang dapat aku gunakan untuk…. Mengatakan isi kepalaku tentang pendidikan jaman dahulu” kata Sha.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

lirik lagu Blessing + terjemahan

pada awalnya aku sedikit bingung karna ada 13 bahasa maaf kalau ada yang salah. ini pakek google transelet nah langsung to the point, ini dia  lirik Blessing ~World Edition~ Lyrics: Blessings for your birthday Blessings for your everyday Saigo no ichi-byō made mae o muke Muitos rótulos vai receber e mesmo se tentar mudar O valor que vão dar a você ocupará esse lugar "Nascondi tutto ciò che sai in te, anche quello che non pensi mai" Quelle parole un tempo feci mie, e cercai di non lasciarle più Oh… It’s time to get up deungbul-eul kkeobeoligi jeon-e neo Oh… It’s time to get up balmit-eul han beon bichwobwa Kung susubukan mo lang na pagmasdang mabuti Saikō no mikata ga utsutterudesho? Det är det som visar att livet finns där Blessings for your birthday Blessings for your everyday Aunque el mundo se pueda acabar, disfrútalo Blessings for your birthday Blessings for your everyday Zhídào zuìhòu de yī miǎo wǒ yě huì táitóu xiàn...

Tentang Novel : Garis Waku by Fiersa Besari

  Judul : Garis Waktu Penulis : Fiersa Besari Penerbit : Media Kita Tahun terbit : 2016 Blurb : Pada sebuah garis waktu yng merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang uang mengubah hidupmu untuk selamanya. Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan. Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada tiitik - titik kenangan tertentu. Maka, iklaskan saja kalau begitu. Karena sesungguhny, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan. POV : Sudut pandang orang pertama Alur : Alur cerita maju Tema: sesuai dengan apa yang ada pada blurb, kita pasti bisa menebak bahwa cerita ini tentang cinta atau romansa, yang mungkin tidak bisa dibilang begitu manis. Konflik : Konfliknya tidak banyak melebar, fokus pada satu konflik yaitu hubungan antara 'aku' dan 'kamu' Keterangan dari penulis (yang berusaha u...

Sasame yuki terjemahan

 Terjemahan lagu Sasame Yuki Cahaya hujan salju ... Jika tidak ada yang akan bekerja untuk saya Lalu aku akan memegang tangan Anda erat Tidak ada yang bisa dilakukan jika saya menangis Mungkin Anda akan mengatakan sesuatu tentang hal itu Aku pura-pura menjadi sangat patuh Berbalik ke arah sudut jalan Jika air mataku terlihat, maka saya akan kehilangan Merenungkan diam-diam sendiri Anda pasti Akan mengejar saya Akan menelepon saya nama saya juga Tanpa melihat ke belakang, saya tunggu Tapi Anda membiarkan saya meninggalkan Cahaya hujan salju Robekan kesedihan menjadi potongan-potongan Angin bertiup utara Biarkan anak-anak menjadi lebih kuat dengan kesederhanaan Biarkan semuanya mencair di sini dengan Menyesali Karena kenangan selalu Jadi, begitu indah Sampai wajah dan rambut saya basah Dan aku lupa tentang menjadi dingin Salju Light Menyesali Sepertinya itu akan berhenti, tetapi tidak berhenti Seperti hujan yang hanya hujan setengah Cinta yang buruk yang membuat orang menyerah S...